Tampilkan postingan dengan label Dongeng dan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng dan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kisah Semanggi dan Dandelion


Pagi itu cerah sekali, bulir-bulir embun berkilau terang di dedaunan, dan udara masih sejuk tanpa cemar polusi. Para tumbuhan berbahagia menyambut senyum mentari, dan merayakannya dengan memekarkan bunga-bunganya. Juga dedauan meninggi mengikuti cahanyanya. Namun ada satu yang bersedih, yaitu setangkai semanggi berdaun empat.

"Bahagianya mereka," keluh semanggi saat melihat para dandelion terbang terbawa angin. "Seandainya aku bisa pergi dari tempat ini seperti mereka. Pasti aku takkan bosan begini."

Tiba-tiba sehelai dandelion mendarat tepat di sebelahnya. "Ah, aku terbawa angin lagi." sesalnya dengan sedih.

"Hey, kenapa kamu bersedih? Aku sangat ingin terbang dan pergi sepertimu!"

"Aku sedih karena dipaksa berpisah dengan saudara-saudaraku oleh angin. Padahal aku masih ingin bersama mereka lebih lama." kata dandelion. "Aku iri padamu, karena kalian para semanggi selalu bersama, bertumbuh di tempat yang sama, sampai layu tetap bersama. Apalagi kamu adalah ratunya para semanggi, mereka akan selalu memayungi kamu."

"Tapi daripada memandangi tempat yang sama setiap saat, bukankah lebih mengasyikan bila mendarat di tempat yang baru?"

"Kami para dandelion tidak semuanya beruntung untuk mendarat di tanah. Coba kau bayangkan, kita sampai di kota yang indah tapi mendarat di beton. Atau mendarat di sungai lalu tenggelam. Apakah itu menyenangkan?"

"Tetap saja aku ingin terbang sepertimu!"

"Aku juga suka terbang, tapi aku maunya seperti burung. Sebab ia bisa menentukan arah terbangnya sendiri, dan mendarat sesuka hati." ucap dandelion penuh makna. "Kalau dibawa angin, atau ditiup anak-anak nakal, kita takkan tahu akan terbang dan mendarat dimana."

"Wah, benar juga ya. Lebih menyenangkan bila kita bisa terbang sesuai kehendak hati."

Sejak saat itu mereka setiap hari saling cerita tentang berbagai hal. Kebosanan semanggi pun berkurang, juga kesedihan dandelion semakin ringan.

Beberapa minggu kemudian helai dandelion itu tumbuh tinggi diantara hamparan semanggi. Semanggi berdaun empat pun bertanya. "Hey dandelion, apa yang kamu lihat di atas sana?"

"Segalanya nampak indah disini," jawab dandelion penuh semangat. "Ayo, tumbuhlah dengan melingkari batangku, agar kau bisa melihatnya!"

Beberapa minggu kemudian semanggi berdaun empat itu berusaha keras menyerap senyuman sang mentari, dan nutrisi dari ibu bumi untuk memanjangkan tangkainya sambil melingkari batang. Hingga akhirnya ia sampai di kepala dandelion. "Wah, di kepalamu sekarang ada helai dandelion lainnya."

"Ya, aku telah menjadi ibu sekarang."Anak-anak dandelion menyapa semanggi dengan antusias nan berisik. "Lihatlah disekitarmu sahabatku."

Semanggi terpesona melihat hamparan luas bunga warna-warni yang tumbuh dengan gembira untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia baru menyadari bahwa tempat tinggalnya selama ini begitu indah. Tak jauh dari situ ada sekolah, dimana anak-anak selalu bercanda ria tertawa setiap harinya. Ada juga taman dimana orang-orang terlihat santai dan bahagia.

"Aku menyesal pernah ingin meninggalkan tempat ini." ujar semanggi malu-malu.

"Lihatlah pagar kayu itu," kata dandelion. "Disitulah ibuku tumbuh."

"Wah, seandainya aku bisa berjalan, aku akan berkunjung!" ujar semanggi penuh semangat.

Mendadak dandelion menjadi murung. "Yah, seandainya masih bisa."

Tanpa sadar senja mulai tiba, dan langit berwarna oranye. Hembusan angin perlahan menggoyangkan dahan. Semanggi langsung melirik ke kepala dandelion. "Fyuh, masih aman." tapi angin berhembus lebih kencang lagi dan teriuplah semua anak-anak dandelion. Semanggi ingin berteriak karena terkejut, tapi ia tidak ingin sahabatnya semakin sedih.

Dengan tangis dandelion berkata, "Selamat jalan anak-anakku, hiasilah tanah gersang, dan taman bermain itu!"

"Jangan bersedih sahabatku, anak-anak lainnya pasti akan tumbuh lebih banyak dan lebih cantik lagi!"

"Itu tidak mungkin." dandelion itu menangis.

"Ayolah bersemangat!"

"Ibu dandelion pasti mati saat ditinggalkan anak-anaknya, dan sekarang aku telah merasakannya bahwa sebentar lagi aku mati." ucapannya semakin melemah.

"TIDAK! Kamu tidak boleh meninggalkan aku!"

"Maaf, seandainya aku bisa, aku ingin menemanimu selamanya. Terimakasih telah menjadi temanku selama ini. Selamat tinggal!" dan akhirnya dandelion itu tak bersuara lagi.

Semanggi memeluknya dengan erat sambil terisak.

Seorang anak TK tiba-tiba datang. "Sepertinya ini aku sedang beruntung hari ini!" ia berkata sambil memetik semanggi berdaun empat itu.

"Inikah rasanya mati?" tanya semanggi setelah merasakan daunnya mulai layu. "Inikah yang dia rasakan tadi?"

"Aku akan membawanya pulang!" anak itu pun menaiki mobil dan membuka jendela, lalu dengan bangga melambaikan daun itu diluar. Saking senangnya anak itu tak sengaja melepaskan tangkainya dan semanggi pun terbang bebas.

"Akhirnya aku bisa terbang.." ujarnya lemah. "Hey, dandelion aku terbang sepertimu sekarang.."

"Tante semanggi!" seru anak-anak dandelion yang juga terbang di sebelahnya dengan bahagia.

"Anak-anak.. Tumbuhlah dengan bahagia.."

Tak lama kemudian angin bertiup berlawanan, dan membawanya kembali pada hamparan kerajaan dedaunan semanggi. Akhirnya semanggi berdaun empat beristirahat untuk terakhir kalinya di sebelah sahabat dan saudara-saudarinya.

TAMAT

Cerpen: Ramalan Cinta (Bagian 2 - Tamat)



Namun tiba-tiba lampu berkedip menyeramkan. Di sudut mata ia melihat seorang gadis duduk dengan tertunduk lesu di ujung lain dari bangkunya.  Stephan menengok dengan takut-takut, dan gadis itu juga menengok tiba-tiba. “APA LIHAT-LIHAT!?” sentaknya, hingga jantung Stephan serasa hampir copot

“Ka-kamu manusia?”  tanya Stephan yang hampir bangkit dari bangkunya.

“Apa gue kelihatan kayak setan?” jawabnya galak, membuang muka.

“Oh, enggak sih, sorry.” Stephan hendak mengakhiri pembicaraan namun ia mulai memperhatikan bahwa gadis itu masih mengenakan pakaian olahraga khas sekolahnya, padahal jam eskul saja sudah selesai berjam-jam yang lalu. Rambutnya yang panjang menempel di wajah dan punggungnya karena basah. Terlebih lagi, yang mengejutkan ada bekas air mata di pipinya.  “Habis diputusin ya?”

“Kepo!” jawabnya kasar.

Ah, udahlah bukan urusan gue. Ngapain bingung? Stephan membuang muka, tapi pikiran tentang gadis misterius itu masih mengganggu, apalagi barusan ia melihatnya menggigil. Melihat waktu masih panjang, perut lapar akhirnya memaksanya pergi membeli bakpao hangat dan kopi. Setelah itu dia kembali duduk di sebelah sang gadis. “Nih, makan dulu.”

Gadis itu memandangnya dengan skeptis. “Gak ada racunnya kan?”

“Ada!” jawabnya kesal. “Tadi gue suruh abangnya naro upil didalemnya! Puas!”

 “Thanks.” Ia melunak, dan langsung melahap bakpaonya. Ia memang benar-benar kelaparan. Bahkan ketika Stephan mengambilkan segelas kopi dan belum mengatakan apa-apa. ia langsung meneguknya seakan sudah tidak panas lagi. Setelah itu ia kembali tertunduk murung. “Gue Tiara—so-sorry tadi udah galak.”

“Yeah, gue paham lo lagi banyak masalah—Gue Stephan,” jawabnya. “Lo gak pulang?”

“Gue belum siap pulang,” jawabnya lesu.

“Aish, patah hati bukan alasan buat gak pulang kan?”

“Gue harusnya pulang dengan bangga hari ini, dengan keringat jerih payah, atau bahkan medali. Tapi lo lihat sendiri..” Tiara menunjukkan kaki kanannya yang diperban. “Gue kecelakaan dan ah—sedih kalau ingat Ibu gue, yang mantan atlit, yang disaat sakit rela ngelatih gue teknik voli sampai  Bapak marah dan bahkan ancam gue kalau sampai gak menang—ah..” Tiara tertunduk menangis.

“Aduh, maaf gue gak tau masalah lo seberat itu. Gue turut sedih.”

“Begonya gue, terlalu semangat mau lomba sampai bikin celaka diri sendiri tadi pagi, tepat disaat mau berangkat ke GOR. Hancur mimpi gue. hancur!” tangan Tiara yang mulai memukul-mukul kepalanya sendiri, tapi Stephan mencegahnya dengan memegangnya erat.

“Gue ngerti banget perasaan lo. Gue yakin Tuhan punya rencana lain buat lo.” jawab Stephan, benaknya langsung melayang ke kejadian 2 yang tahun lalu dan bercerita. “Gue dulu pernah terpilih jadi wakil Indonesia di kompetisi DOTA se-ASEAN, kebayang gak gimana bangganya? Tapi gue dengan begonya gak ikut.”

“Kok bego—eh kok gak ikut? Itu kan keren banget!”

“Ya gue bangun kesiangan dan pastinya udah didiskualifikasi 7 jam sebelumnya.” jawab Stephan dengan pede.

“Hahaha. Kalau 7 jam itu kemalaman namanya,” ia tak bisa berhenti tertawa, sampai-sampai melupakan kesedihannya. “Ternyata masih ada yang lebih bego lagi dari gue.”

“Nah, makanya,”  Stephan ikut terbahak. “Sekarang udah berani pulang kan?”

“Masih takut.” jawabnya murung.

*GUBRAK!*

“Aish, terserah lo aja deh mau pulang kapan.” ujarnya sambil mengacak rambut. “Tapi lo nanti beneran harus pulang. Bahaya tau kalau cewek sendirian malem-malem begini.”

Tiara tak menjawab, dan mereka saling diam cukup lama. Musisi jalanan mulai beraksi memecah kesunyian. Tiara menikmati suara sang penyanyi ketika menyanyikan lagu Akad milik Payung Teduh. Namun sebaliknya, Stephan terlihat bosan dan berkali-kali melihat jam tangannya. “Lo nungguin orang?” tanya Tiara.

“Nungguin jodoh,” jawabnya tanpa rasa malu. “Kata ramalan gue bakal ketemu jodoh di taman ini,”

“Dan lo percaya?” Tiara setengah mati menahan tawa. “Kalau mau dapet jodoh, gabung sana ke kerumunan. Kalau disini, di tempat yang dihindari kayak begini, dapetnya penghuni yang di pohon belakang!”

“Aish, itu sih jodoh lo.” Stephan terbahak. “Justru gue disini karena yakin kalau memang jodoh pasti bakal dateng sendiri kesini. Entah dia barangnya ilang, dikejar penjahat, atau lewat dan jatoh kepeleset. Biasanya di game dating simulator kejadiannya selalu gitu!”

“Itu kan cewek 2D di game!” Tiara geleng kepala. “Buru gabung sana, banyak temen sekelas gue yang single tuh. Yah, biarpun ada bapaknya juga sih.”

“Gue gak suka gabung di keramaian.”

Tiara pun menyerah untuk membujuk.

Stephan pun pergi membeli batagor hangat dan membaginya dengan Tiara. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Langit gerimis akhirnya perlahan tapi pasti memaksa orang-orang untuk mulai meninggalkan taman. Tanpa sadar sekarang sudah jam sebelas malam. Stephan mulai menguap kelelahan dan hendak pulang, “Lo gak pulang?”

Tiara menggeleng murung.

“Ah masa gue harus jagain lo disini sampai  pulang. Sebentar lagi hujan nih!” katanya sambil mengacak rambutnya sendiri. Tapi tiba-tiba ia menyadari kaki Tiara yang cedera telah membengkak. “Eh itu—kaki lo bisa jalan?”

Tiara menggeleng lagi.

Stephan melepas jaket dan memberikannya ke Tiara. “Cepet pakai ini,” perintahnya. “Habis ini biar lo gue gendong di punggung.”

Tiara berjengit. “HAH? Eh-eh..Ma-maksudnya?”

“Ya lo gue gendong sampai rumah.” jawabnya dengan malas. Tiara hendak menolak tapi Stephan berkata, “Kalau gak mau digendong, terus mau diseret? Atau mau numpang nginep di rumah penghuni pohon belakang? Gak kan?” Stephan langsung memposisikan punggungnya di hadapan Tiara. “Ayo naik, keburu deras ini!”

“I-iya.” Tiara pun dengan susah payah naik.

*JLUG!*

Buset! Ini cewek badannya kecil, tapi beratnya kayak genderuwo. Butuh beberapa saat sampai Stephan bisa terbiasa untuk berjalan dengan beban di punggungnya. “Nah, rumah lo dimana?”

“Di-di Jalan Gotong Royong, sebelah kiri warteg ijo.”

“Buset jauh juga, 700 meter-an lagi. Tapi enak juga ya deket sama sekolah. Gue di jalan Kancil, dan sering terlambat karena jauh. Kaki gue sampai udah berotot, tapi lo tau kan Pak Rahmat.…..”

Kata-kata Stephan sudah tidak terdengar, telinganya seakan berada didalam air. Tiara masih terkejut tapi ia menikmati angin dingin membelai wajahnya, dan wangi parfum Bellagio di jaket training yang masuk ke hidungnya dan hangatnya tubuh Stephan yang mau tak mau ia peluk. Stephan pun merasakan air hangat di pundak kanannya yang ternyata iler Tiara yang tengah tertidur.

“Aish jijay banget ini cewek!” gumamnya. Namun Stephan tidak mau membangunkannya karena kasihan. Dia terjebak di hari yang berat, kasihan banget. Baru ketika hampir sampai di dekat warteg ia membangunkannya. “Oy, enak banget tidur, kaki gue udah mau patah ini. Itu rumah lo kan?”

“Aduh maaf, gue ketiduran!”

“Lo bisa jalan sendiri kesana kan? Gue takut ortu lo salah paham nanti. Bisa kena double kill nanti.”

Tiara dengan susah payah turun, “Thanks Stephan!” ia hendak melepas jaket yang basah kuyup tapi Stephan melarangnya.

“Udah, buat lo aja. Gue punya banyak di rumah.”

Mata Tiara berbinar, “Serius ini? Ini kan Adidas ori!” serunya dalam bisikan. “Thanks so much Stephan!” setelah itu ia masuk dengan mengendap-endap ke gerbang, dan ternyata orang tuanya telah menunggu di teras.

Dari kejauhan Stephan mendengar teriakan histeris sang ayah. Bukan teriakan kemarahan biasa, tapi kemarahan penuh kasih sayang. “TIARA! Kamu kemana aja!?” sang ayah memeluk erat sambil menangis, disusul sang ibu. “Bapak gak marah sayang, kamu gak ikut lomba karena musibah, bapak ngerti!  Kamu gak perlu kayak begini!”

Stephan pulang dengan tersenyum lega karena bisa melihat momen bahagia itu, yah setidaknya untuk beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa ponsel kesayangannya ternyata ada di jaket training itu. Mampus gue njir! Mana ada turnamen PUBG pula! Anjir besok hari minggu juga!

***

Senin cerah menyambut, tapi Senin juga selalu menyeramkan bagi Stephan. Seharian bermain Heroes of Might and Magic V dan Age of Wonders III masih kurang panjang sebab ia belum sempat memainkan Sid Meier’s Civilization V. Tadi ia berangkat dengan bersin-bersin karena flu, tapi ajaibnya tidak terlambat seperti biasa. Pagi ini ia menemui Milona langsung ke kelas X-5, dan gadis itu menyambut.

“Pagi kakak Tepan! Aku dapet medali perak loh!”

“Selamat ya! Keren banget! Lo memang membanggakan sekolah!” puji Stephan. “Tapi gue kesini bukan buat lihat medali. Gue minta lo tanggung jawab. Ramalan lo gak tepat Mil, padahal gue udah ke taman dan menunggu sampai malem, tapi gak ada yang muncul.”

“Hah? Ramalan aku gak mungkin salah loh kakak. Pasti kakak Tepan keasikan main game tuh sampai gak perhatian sama sekitar! Ya kan? Ya kan? Ya kan?”

“Enak aja, gue justru gak main hp sama sekali waktu itu!”

“Oke deh kalo gitu aku tanggung jawab ramalin gratis.” Milona mengambil kartu remi diantara banyak kartu di tasnya. Bahkan saat Stephan mengintip ada kartu Werewolf dan Yu-Gi-Oh juga diantara koleksinya. “Baiklah, karena GE-RA-TIS kakak ambil satu kar—” Bruak! Kartu remi itu tiba-tiba terlepas dari tangan Milona dan jatuh berhamburan di lantai. Anehnya semua kartu tertutup dan hanya satu yang terbuka: As hati yang menunjuk ke arah pintu. “Kabar bagus kak!”

“Apa? Gue harus bersih-bersih lagi gitu?”

Mata Milona langsung berbintang-bintang. Ia sudah membayangkan ditraktir oleh Stephan si anak bos Santoso Corporation.  “AS HATI INI MENUNJUK KE ARAH JODOH KAKAK BERADA!” Milona bergembira sendiri sampai tak bisa mengontrol volume suaranya. Seisi kelas pun menahan tawa, dan jitakan Stephan pun mendarat di kepala Milona. Wadauw!  “Dia bakal dateng dalam hitungan… 5… 4… 3… 2…”

Tiba-tiba Tiara yang jalannya masih pincang muncul di pintu dan terkejut. “Stephan!?” Ia mempercepat langkah pincangnya. “Pasti lo nyari ini kan?” Tiara menyodorkan ponsel dari sakunya. “Malem itu gue mau tidur, tapi muncul notif turnamen dan WhatsApp  temen gamer lo rame, jadi ya gue mainin dan akhirnya—“

“Gue nyari lo, Tia.” kata Stephan dengan tatapan tajam. “Jodoh yang gue temuin di taman!”

Pipi Tiara langsung memerah.

Sekelas pun menyoraki mereka.  “Jadian… Jadian… Jadian!” Walaupun masih kalah keras dan kurang lebay kalau dibandingkan dengan teriakan Milona.

Stephan dan Tiara pun hanya bisa tertawa.

TAMAT

Cerpen: Ramalan Cinta (Bagian 1)


Dengan yang rambut berantakan ia berlari menuju sekolah sambil terburu-buru mengancing baju seragam SMAnya dan mengenakan dasi. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai di sekolah, sebab ini sudah kesekian kalinya ia kesiangan. Mungkin hukumannya akan jauh lebih berat dari sekedar berdiri di koridor. Sialnya pak satpam sudah mulai menutup gerbang, dengan berlari sekuat tenaga ia nekat menerobos celah sempit yang hampir tertutup, dan langsung berlari ke kelas.

Namun di depan kelas, hal yang ia takutkan telah menanti. “Stephan Santoso! ” sentak Pak Rahmat. Dalam pandangan Stephan, guru botak bertubuh pendek itu seakan berubah menjadi tinggi besar, bermata merah, dan bertanduk. Stephan hanya bisa tertunduk pasrah. “Tunggu,” sang guru mengangkat wajah Stephan dengan tatapan curiga. “Apa-apaan kantong mata gelap ini. Kamu pasti begadang main game online lagi ya!”

“Ampun pak,” Stephan langsung berlutut dan memohon. Ia mungkin badung tapi juga sangat hormat kepada guru-gurunya. “Saya berjanji ini terakhir kalinya saya telat!”

Sikap Pak Rahmat melunak tiba-tiba. “Seperti janji minggu lalu itu eh?” ia merangkul pundak Stephan. “Bapak tahu kamu itu sebenarnya anak baik, dan lumayan cerdas juga. Hanya saja kegilaanmu terhadap game itu sudah kelewatan dan bisa menghancurkan nilai rapor dan masa depanmu. Kamu sadar itu kan? Prestasimu semakin anjlok nak!”

Stephan hanya mengangguk malu.

“Nah, sekarang sebaiknya kamu ke kantin saja. Sebab kamu terlalu lelah untuk ikut pelajaran bapak, dan itu tidak akan bagus hasilnya. Kembali nanti setelah jam istirahat pertama.” perintah sang guru dengan senyuman yang buat Stephan terharu.

“Sa.. saya benar boleh istirahat pak?  Gak ada hukuman gitu?”

“SIAPA BILANG ISTIRAHAT!!” sentak Pak Rahmat buat Stephan terlonjak. “Kamu harus membantu Bibi membersihkan kantin sampai lantai, meja, etalase, bersih sebersih-bersihnya! Kalau masih ada sedikit kotoran saja, bapak suruh kamu sekalian bersihkan seluruh koridor! Mengerti!?”

***

Stephan memeluk lesu gagang pel saat memandang sekelilingnya. Kantin yang kecil itu kini seakan berubah menjadi sangat luas dan lima kali lebih kotor. “Mati gue.” keluh Stephan. Namun ia tetap membersihkannya tanpa banyak bicara. Ia mengambil piring-piring kotor, mengelap meja, menyapu hingga bersih. Bahkan para penjaga kantin yang sibuk memasak makanan pun memuji betapa fokusnya Stephan. Walaupun sebenarnya Stephan sengaja bekerja sambil memikirkan strategi baru untuk game perang yang sedang ia gandrungi agar rasa lelah dan lamanya waktu dapat terlupakan. “Mungkin gue harus train 20 archer buat bikin kacau pertahanan selatan.” gumamnya.

Sementara Stephan mulai mengepel, seorang gadis berambut panjang duduk dengan santai memperhatikan kakak kelasnya yang begitu rajin. “Yang situ belum bersih tuh,” dengan pede ia menunjuk ke kanan. Namun Stephan tanpa sadar menurutinya, sebab pikirannya masih terfokus dengan strategi. “Itu juga harus digosok kuat-kuat,” perintahnya lagi seraya menunjuk ke kiri. Stepan lagi-lagi menurutinya tanpa protes. Menyadari itu, pikiran jahil sang gadis pun mulai keluar. Setelah Stephan selesai mengepel, ia meminta “Sekalian jusnya dua dong kak!” sambil menahan tawa.

Stephan datang membawa jus, dan meletakkannya di meja. Stephan lalu duduk malas di depan sang gadis dan tersadar. “Buset! Kualat lo nyuruh-nyuruh kakak kelas!” serunya. “Lagian kalo lo bisa disini diluar jam pelajaran, lo juga dihukum ya kan? Bantuin kek! Emangnya gue pembantu lo!”

“Hehe! Bercanda kakak Tepan! Tapi itu jusnya aku traktir loh, soalnya aku lagi senang sekarang!” sang gadis terbahak. “Tapi aku gak dihukum kak—soalnya aku murid teladan dan juga anggota OSIS paling menawan—aku disini cuma mau sarapan sambil nunggu dijemput buat ikutan Olimpiade Sains Nasional sehabis istirahat ini.”

“Aish, gue jadi berasa paling sial di sekolah ini,” Stephan menyesap jusnya dengan lesu, lalu menidurkan kepala di meja. “Good luck deh buat olimpiadenya.”

“Oke, aku bakal berjuang demi nama sekolah!” seru sang gadis. “Tapi jemputannya masih setengah jam lagi, gimana kalau kita main kartu Uno? Mau ya? Mau ya?”

“Ogah.” jawab Stephan pendek.

“Kartu remi? Mau plis, mau ya?”

“Males.” tolaknya lagi.

“Aah, aku bosan nih.” keluhnya. Namun Stephan tidak lagi menggubrisnya. Ia terdiam sejenak sambil menyesap jusnya, dan mendapatkan ide. “Kakak Tepan kan lagi dapat sial terus, gimana kalau misalnya aku ramal aja? Mau?”

“Buset!!” Stephan terkejut setengah mati. “Kenalan aja belum, lo udah mau lamar gue aja!”

“Ramal kak! RAMAL!” seru sang gadis dengan jengkel. “Baiklah, namaku Milona, dari kelas X-5. Aku sering meramal—tapi gak gratis—dan sudah puluhan murid kelas X yang aku ramal.”

“Tepat gak hasilnya?”

“Gak tau deh, tapi gak pernah ada yang protes kok!” jawab Milona dengan senyum mencurigakan. “Karena kakak Tepan orang baik, aku akan ramal secara gratis!” Ia langsung mengocok kartu remi dan melebarkannya di meja. “Silahkan ambil satu kak!”

Stephan mengambil satu kartu dengan malas dan menyerahkannya ke Milona. “Gawat kakak!” Gadis itu langsung terkejut seolah terjadi bencana besar. “4 sekop berarti kesialan bakal menimpa kakak hampir sepanjang hari!”

“Udah gitu aja?” tanya Stephan cuek. “Perasaan peramal di TV biasanya suruh bintang tamu ambil 3?”

“Hehe! Kalau mau nambah, harus bayar dua puluh ribu kakak!” ujar Milona tanpa rasa bersalah.

*GUBRAK!*

“Haduh—Nih,” Stephan memberikan selembar uang. “Jangan ramalan jelek lagi yang keluar. Bagusin dikit kek. Gue lagi badmood nih.”

“Oke, karena kakak terkenal jones, aku akan ramal soal jodoh!” ujar Milona. Sebuah pilihan tema yang membuat Stephan hilang minat. Milona mengocok kartu dengan semangat, bahkan sampai beratraksi. “Kali ini silahkan ambil tiga kak!”

Stephan mengambil kartu dengan asal, dan menyerahkannya pada sang peramal. Ia kehilangan minat karena merasa dirinya tak pernah bernasib baik soal jodoh dan cinta. Bahkan sampai sekarang belum ada satu gadis pun yang pernah pacaran dengannya. Mungkin itu juga karena dia lebih peduli soal game dan turnamen daripada pacaran.

“Wiih!” Milona tersenyum lebar seakan baru mendapatkan medali emas olimpiade. “As hati berarti bakal ketemu jodoh, delapan wajik berarti jam delapan, 10 keriting berarti di taman—Selamat kakak, akhirnya kesempatan itu tiba!”

“Gimana bisa itu 10 keriting berarti di taman?” Stephan terheran-heran.

“Kan pohonnya banyak kak! Hehe!”

*GUBRAK!*

“Ah, ternyata cuma begitu doang,” Stephan kembali lesu, ia sama sekali tidak yakin dengan ramalan itu. Ia mengambil ponsel gaming ROG dari sakunya dan mulai memainkan game balapan. “Thankyou Mil—ya gue gak pernah percaya ramalan sih—tapi ya lumayan ada teman ngobrol.”

“Stephan Santoso!!” suara Pak Rahmat terdengar menggelegar mengejutkan seisi kantin. Sang guru merebut ponsel Stephan. “Dasar kamu tidak punya malu. Sudah dihukum karena game, masih saja kamu berani menyentuh perusak otak itu! SEKARANG BERSIHKAN KORIDOR KELAS XI!!!”

“Ups,” Milona berbisik. “Empat sekopnya kejadian kak. Aku kabur yah. Bye!”

Mau tak mau ia segera pergi membersihkan koridor. Betapa malu perasaannya ketika harus mengepel koridor XI-1 sampai XI-3, sebab disitulah ruang kelas anak-anak keluarga tersohor. Maria Agatha, putri dari Chairman Agatha Grup—yang selama ini selalu jadi pesaing ketat Sansoso Corporation—terlihat tertawa dengan begitu puas. Sialan! jerit Stephan dalam hati. Cewek setan itu pasti bakal cerita macam-macam ke bokapnya. Gadis itu dan gengnya bahkan terus mengolok-oloknya. Ia sangat ingin membalasnya, tapi ia merasa bisa mati kalau hukumannya ditambah lagi. Namun untungnya Bu Rida yang lewat segera mengusir Maria dan gengnya.

Satu cobaan berlalu, cobaan lainnya ketika mengepel koridor XI-4 sampai XI-7 yang muridnya terkenal hobi pacaran. Melihat mereka yang bermesraan saja sudah terasa seperti dicabik-cabik, apalagi bila ditambah dengan ejekan jomblo ngenes di sepanjang koridor. Bajirut! maki Stephan. Ia langsung mengambil iPod dan memakai earphone sebelum menyalakan musiknya. Ah, enaknya musik kalem begini. Jadi bisa fokus kan.

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asik sendiri
Lama tiada yang menemani..

Buset ini iPod juga ngajak ribut! Sekarang Stephan sudah terlalu marah, ia sudah tidak peduli lagi. Tapi tetap saja yang paling berat adalah ketika melewati kelas sendiri, yaitu kelas XI-10. Sebab teman sekelasnya malah kompak membullynya, mereka menganggap Stephan itu hanya membuat malu karena terlalu sering kena hukuman. 

Stephan menyelesaikan hukumannya tepat sebelum jam istirahat kedua selesai. Namun tenaganya terlanjur habis, dan kepalanya sudah sangat pusing. Setelah mendapat izin, ia langsung tidur di ruang UKS. Meski tadinya sudah hampir tertidur, ketenangan ruangan itu seketika hilang ketika seorang siswa mengalami kecelakaan kecil yang membuatnya luka gores di lengan kanannya. Sang pacar terus menemaninya dan selalu menanyakan keadaannya dengan lebay.

“Kamu gak apa-apa sayang? Aku tadi khawatir banget kamu kenapa-napa soalnya kamu sampai pingsan!”

“Aku gak apa-apa. Kamu gak usah khawatir, walaupun jatuh hatiku gak pecah kok. Aku cinta kamu!” jawabnya dengan nada lesu yang dibuat-buat.

“Ah, kamu so sweet banget deh!”

Stephan duduk dengan kesal. Ia menjenggut rambut dan menahan rasa kesal hingga giginya bergemeretak. “Kalian berdua sampah! Kalau mau pacaran keluar sana! Sialan! Anj#@%!” dan pasangan itu pun kabur karena ketakutan. Stephan langsung tidur dengan menelan kejengkelannya.

Sampai akhirnya hari sudah sore ketika suara derap langkah kaki para murid yang pulang sekolah membangunkannya. Pusing di kepalanya sudah hilang. Ia segera mengenakan tas dan langsung pulang. Dalam perjalanan pulangnya, hujan tiba-tiba mengguyur dengan begitu deras. “Sialan lo 4 sekop!!” serunya memaki langit mendung. Orang-orang di sekitarnya menjauh dan memandang dengan tatapan yang seakan berkata ‘awas ada orang gila.’

***

Sampai di rumah, Stephan langsung berendam air panas di bathup. Awalnya ia ingin balas dendam dengan bermain game sepuasnya, dan mempraktikkan strategi barunya. Namun kartu 4 sekop masih mengganggu pikirannya. “Begonya gue, kenapa mesti percaya omong kosong kayak gitu.” ia tersenyum pahit. Namun ia kembali teringat pada ejekan jomblo ngenes yang selalu dilontarkan murid lain. “Mungkin gak ada salahnya gue datang ke taman, toh boring disini.” Stephan sudah jenuh berada di rumah yang sepi, sebab ia tak punya ibu. Ayahnya pun hampir tidak pernah pulang karena urusan bisnis.

Taman malam itu cukup ramai, mungkin karena memang sedang malam minggu. Orang-orang berjalan saling mendorong dan berdesak-desakan, ditambah lagi mereka yang mengantri membeli jajanan tradisional untuk makan malam. Ah sial, gue benci sepi tapi ini terlalu rame! batinnya.  Stephan kesulitan menemukan bangku, sampai akhirnya mau tak mau ia hanya bisa pasrah duduk di bangku di sudut taman yang paling dihindari. Sebab disekitar bangku itu terdapat pohon beringin tua nan besar, juga minim pencahayaan karena beberapa lampunya pun sudah lama mati. Masa bodo lah soal setan, gue terlalu capek buat takut! pikirnya ketika bulu kuduk mulai merinding. 

Namun tiba-tiba lampu berkedip menyeramkan!

Cerpen: Saving Melody (Bonus Part)


Didalam angkot, Bryan masih merasa galau sehabis dicium vampir. Sementara itu Ismu tersenyum-senyum mencurigakan, dan itu mengusik Bryan. "Kau kenapa sih. bro?" tanya Bryan. "Masih kebayang ciuman Kak Veranda ya?"

"Bukan," jawabnya. "Yang ini lebih dari sekedar ciuman. Ini harta karun tak ternilai!"

"Maksudnya?" Bryan keheranan.

"Ta da," Ismu menunjukan tab milik Veranda yang lupa ia kembalikan.

Bryan mendengus sebal. "Itu kan cuma tablet, tak ada istimewanya. Harganya juga tak begitu mahal." katanya. "Lagipula mencuri itu nggak baik, bro."

"Aduh, kamu ini payah! Bukan tabnya, tapi isinya yang harta karun!" kata Ismu. "Didalam tab ini ada banyak foto dan video pribadi. Lihat nih," Ismu membuka galeri foto, dan tampaklah foto-foto impian.

"Itu pakaian renang!" Bryan melotot melihat Veranda dalam balutan pakaian renang berwarna pink, merah, hijau, dan lain sebagainya.

"Yeah," kata Ismu bersemangat seraya menggant-ganti foto yang ditampilkan. "Ada foto pakaian renang Melody juga loh!" lanjut Ismu sambil menunjukan beberapa foto pakaian renang Melody.

Bryan menepuk pundak Ismu. "Kita memang WOTA yang paling beruntung sejagad raya ya, Ismu?" ujar Bryan yang tak menyadari darah segar mengalir keluar dari hidungnya. 

Kali ini benar-benar..

TAMAT

Cerpen: Saving Melody (Part 4)


"Tapi bagaimana cara kita melakukannya?" tanya Ismu. "Bomnya cuma satu pula."

"Secara teori, penyerangan ini mudah kok," ujar Bryan. "Aku butuh satu orang sebagai umpan yang bertugas untuk mengacaukan perhatian Charlie, lalu seorang lagi menyerang dari belakang dan memasukkan bom ke mulutnya ketika Charlie lengah, dan satu orang sisanya bertugas menyelamatkan Ve dan Melody, lalu membawanya pergi sejauh mungkin." 

"Well, rencana ini terdengar meyakinkan," ujar sang driver dengan optimis. "Aku siap menjadi umpannya!"

"Aku siap menjadi penyelamatnya!" timpal Ismu. "Berarti kamu yang menjadi penyerang dari belakangnya, Bry!"

"Eh kampret, kenapa bagian krusial dan susahnya malah jadi tugasku?" protes Bryan. "Dasar kalian curang! Merancang strategi saja sudah susah, tau!"

"Bagaimanapun, ini strategimu. Ya hanya kamu yang bisa menjalankan bagian serunya dengan sempurna." ujar Ismu sambil menepuk punggung Bryan, tapi Bryan segera menampiknya. "Tenang saja, nanti kalau ketemu Melody, aku akan sampaikan salam kamu, Bry." imbuh Ismu, tergelak. Sang driver ikut tertawa, dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama-sama.

***

Sang driver ojek berlari menghampiri Charlie sambil menggenggam erat pisau di kedua tangannya. "Woi, vampir gosong," pancing sang driver. "Payah kamu. Beraninya hanya bertarung sama perempuan. Sini hadapi saya!"

Charlie tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan sang driver. "Kamu ini sudah bosan hidup atau apa?" ujar Charlie dengan nada yang merendahkan. "Kalau kau mau mati, kau tidak perlu buang tenaga untuk bertarung. Karena tuan Charlie akan memberkatimu dengan kematian tanpa rasa sakit."

"Cih! Hanya Tuhan yang berhak menentukan kematian seseorang. Sekarang, tutup mulut bau amismu itu!" seru sang driver. Ia berlari menyerang Charlie, tapi beruntung Charlie hanya ingin bermain-main saat ini. Charlie membiarkan sang driver menyerangnya, karena ia bisa menepisnya dengan mudah, bahkan ia dapat menepisnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Boleh juga kemampuan bertarungmu," puji Charlie. "Aku, tuan Charlie yang baik hati, akan menjadikanmu sebagai pengikutku bila kau ingin. Kau akan menjadi bagian dari new world order yang aku rencanakan."

"Tidak akan!!" bentak sang driver. Ia menyerang Charlie dengan semakin menggila, tapi Charlie masih bisa menepisnya, bahkan sambil menguap.

"Ah, aku bosan bermain denganmu," kata Charlie. Ia segera mencengkeram leher sang driver. "Ini akibatnya bila kau menentangku sang penguasa dunia baru!"

Bryan diam-diam berlari di belakang Charlie untuk melakukan serangan diam-diam. Ketika sudah sangat dekat dengan Charlie, Bryan melompat untuk menungganginya. Tapi dengan satu kibasan sayap, Charlie dapat melukai Bryan dan menjatuhkannya. Charlie merasa murka karena serangan tiba-tiba ini, dia membanting sang driver ke tanah, lalu mencengkram leher Bryan dan mengangkatnya keatas.

Meski kesakitan, sang driver segera bangkit dan melompat ke punggung Charlie untuk menungganginya. Charlie meronta-ronta untuk menjatuhkan sang driver dari punggungnya, tapi gagal karena pegangannya sangat erat sekali. Sang driver mencari-cari dimana mulut Charlie dengan merabanya. Namun, bukannya menemukan mulut, ia malah menemukan mata. Tanpa ragu, sang driver mencolok kedua mata merah menyala milik Charlie. 

"Aargh!" Charlie berteriak kesakitan.

"Mas Bry, cepat bangun dan lakukan sekarang!" perintah sang driver.

Bryan bersusah payah bangun dari tanah, tubuhnya serasa remuk. Ia segera berlari dan berusaha memasukkan bom itu ke mulut Charlie. Namun, sebelum itu terjadi, Charlie menendang Bryan hingga terpental beberapa meter kebelakang, dan bomnya terlempar entah kemana.

Colokkan jari sang driver di mata Charlie semakin lama semakin dalam, dan ia pun semakin menggila. Ia melebarkan sayap dan terbang berputar-putar tidak karuan di angkasa untuk menjatuhkan sang driver dari punggungnya. Tapi lagi-lagi, sang driver berpegangan beritu erat pada kepalanya. 

Sementara itu, Ismu diam-diam menghampiri altar kematian untuk memeriksa keadaan Ve yang terluka parah karena siksaan Charlie. Mata Ve berkedip dengan lemahnya, ia merintih kesakitan karena tubuhnya dipenuhi luka. Seragam ninjanya sudah compang-camping tidak karuan dan berubah warna karena darah.

Air mata Ismu terurai ketika ia berusaha membantu Ve untuk bangkit, ia tak tahan mendengar oshinya merintih kesakitan. "Ayo ikut aku, kak. Aku akan menuntunmu." kata Ismu. "Bryan dan mas driver ojek itu pasti bisa membereskan Charlie."

"Melody.." kata Ve lemah. Ia merangkulkan tangan ke pundak Ismu, dan segera berdiri.

"Ya, jangan khawatir," kata Ismu. "Kita akan memeriksanya, kak."

Tak lama kemudian, Ismu dan Ve menghampiri Melody. Ve melepas tangannya yang merangkul Ismu, lalu dengan terpincang-pincang ia mendekati sahabatnya yang terkulai lemah tak berdaya di altar kematian. Ada beberapa sebuah luka bekas gigitan di leher Melody, dan kulitnya pun tampak sangat pucat, mungkin karena darahnya terlalu banyak dihisap. Ve menempelkan telingannya di dada Melody untuk memeriksa detak jantungnya. "Dia masih hidup!" seru Ve. "Tapi racun dari gigitan Charlie tampaknya mulai menyebar. Aku akan menyegelnya agar penyebarannya tidak semakin meluas."

"Ah, jangan!" larang Ismu. "Tenagamu belum pulih, kak!"

"Hanya ini satu-satunya hal yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkannya!" bentak Ve. "Jangan coba-coba menghalangiku, Ismu!" tegas Veranda. Tanpa mempedulikan apapun yang akan dikatakan Ismu, ia memulai ritual penyegelan luka gigitan vampir. Ia membuka sebuah gulungan, dan membaca mantera. Huruf-huruf di gulungan itu terbang, keluar dari kertas, lalu bersatu di udara dan berubah menjadi sebuah lingkaran. Ve menyentuh lingkaran itu, dan mendorongnya hingga menempel di luka Melody. Luka pun berhasil disegel. Tapi segera setelah itu Ve jatuh pingsan. Ismu pun menjadi panik.

Ditempat pertarungan. Bryan dan sang driver masih sibuk menjinakkan Charlie. Setelah cukup lama menghabiskan waktu dengan meraba-raba tanah, Bryan akhirnya telah menemukan bomnya yang hilang. Ketika Charlie terbang agak rendah, Bryan segera melemparkan bomnya kepada sang driver. Setelah menangkap bom itu, sang driver menjejalkan bom tersebut ke mulut Charlie. Tak semudah yang ia kira karena Charlie terus mengatupkan mulut dan menahan bom itu—agar tak sampai masuk—dengan giginya.

Sang driver tidak menyerah, dia mencolok lagi mata Charlie yang sudah buta karena colokkan sebelumnya. Ketika mulut Charlie terbuka karena kesakitan, sang driver menekan kuat-kuat bom itu agar masuk ke mulut sang vampir tampan itu. Sebelum benar-benar masuk kemulut, sang driver menekan tombol untuk mengaktifkannya dan kemudian mendorongnya agar masuk. Sialnya, sebelum mulutnya dibungkam, vampir itu meludahkan bom yang sudah aktif itu.

Bryan merasa panik melihat jatuhnya bom itu. "Bom itu akan meledak dalam 30 detik. Sialan, itu satu-satunya bom yang ditinggalkan Ve." gumam Bryan. Namun, Bryan jauh lebih panik lagi ketika bom itu ternyata akan jatuh didekat sahabatnya. Sontak saja Bryan berteriak, "ISMU AWAS!!!"

Ismu sempat terkejut sekaligus kebingungan, namun ia segera menyadari ada bom jatuh tak jauh dari tempatnya yang akan menghabisinya serta Ve dan Melody. Tanpa berfikir panjang lebar, ia menyundul bom itu dengan harapan agar bomnya kembali keatas dan mengenai Charlie.

"Ya ampun Ismu. Apa yang kamu lakukan!" seru Ve yang sudah siuman, ketika melihat sundulan Ismu justru melenceng jauh dan bomnya kini mengarah ke Bryan.

Bryan kaget dan panik setengah mati. "GUOBLOG!! KENAPA DISUNDUL KE AKU?!?!" serunya memaki Ismu. Tapi bagaimanapun juga itu adalah bom aktif dengan ledakan yang cukup untuk menghancurkan sebuah kuil. Pilihan Bryan saat itu hanya menepisnya, atau mencari tempat paling aman untuk berlindung. Namun ketika melihat bom melayang kearahnya, tiba-tiba sosok Samsul Arif sang striker Persib Bandung terbayang dibenaknya. Bryan langsung berinisiatif menendang bom itu dengan tendangan cannonball ala pesepakbola idolanya. "Terimalah ini, bangsat!" Dues! Bom itu melesat ke arah Charlie. "Kau akan membayarnya, Ismu!"

Sang driver menangkap bom itu, menjejalkannya ke mulut Charlie, dan membungkam mulut itu dengan kedua tangannya, sekuat tenaga. 3 .. 2 .. 1 .. Buum! Bom itu meledak didalam mulut Charlie, sehingga tubuh vampir itu menggembung, semakin lama semakin besar. Sebelum tubuh Charlie meledak, tak peduli seberapa tinggi dia di udara, sang driver melompat kebawah untuk menyelamatkan diri. Setelah itu tubuh Charlie meledak bagaikan kembang api di udara.

"Tidak!!" seru Bryan dan Ismu serta Ve. Bryan dan Ismu segera berlari untuk memeriksa keadaan sang driver. Untungnya sang driver ojek itu jatuh di semak-semak yang cukup rimbun, sehingga dia baik-baik saja.

Ketika Bryan dan Ismu kembali bersama sang driver. Ve memeluk mereka bertiga dan berterimakasih karena telah menyelamatkan Melody dan mengalahkan Charlie. "Kalian benar-benar hebat!" puji Ve sambil menangis terharu. Ve memandang Bryan. "Ismu bilang kamu yang buat strategi ya? Strategimu brilian! Ide-idemu juga banyak membantu sejak awal penyelamatan ini. Terimakasih banyak." pujinya.

"Terimakasih kembali." ucap Bryan sambil tersenyum malu.

Ve memandang sang driver. "Kamu adalah driver ojek paling berani. Kamu rela bertaruh nyawa demi penumpangmu. Aksimu melawan Charlie tadi luar biasa berani, dan aku salut. Terimakasih ya!" puji Ve. "Mulai sekarang, kamu akan kujadikan driver ojek langgananku. Oke?"

"Baik, kak. Terimakasih." jawab sang driver dengan mata berbinar-binar. "Tapi setidaknya jangan membawaku bertempur dengan vampir ya." imbuhnya, membuat semuanya tertawa.

Ve memandang Ismu. "Ismu, kamu juga hebat. Kamu bertarung tanpa kenal lelah. Aksimu menyetir ugal-ugalan tadi, itu benar-benar keren. Meskipun aku marah, aku sebenarnya sangat berterimakasih untuk itu. Kita jadi bisa lebih cepat mengejar mobil Charlie, daripada misalnya aku naik taksi dengan supir normal. Hehe."

"Sama-sama, kak," kata Ismu. "Ngomong-ngomong, Kak Veranda mau nggak berpacaran denganku? Aku kan sudah menyelamatkan kakak dengan mempertaruhkan nyawa."

"Kepedean kamu, bro!" ejek Bryan. Ia dan sang driver kompak tertawa terpingkal-pingkal, sampai akhirnya mereka terdiam karena Ismu menekuk wajahnya.

Jawaban Ve adalah.. "Ogah," Hati Ismu hancur seketika. Ve mencoba menghiburnya dengan berdalih, "Maaf, kita berteman saja ya, Ismu?" kata Ve. "Aku bakal senang punya teman sehebat kamu."

Ismu tidak menyerah. "Maaf kak, temanku sudah banyak. Lebih baik kita pacaran deh." paksanya.

Ve menggeleng kepala sambil tersenyum. "Maaf Ismu, pacarku juga sudah banyak," jawab Ve, bercanda.

"Sukurin!" ejek Bryan lagi. Ia dan sang driver tertawa sampai terguling-guling di tanah.

Ismu tahu Ve bercanda, tapi tetap saja hatinya sakit, apalagi kedua temannya terus mengejeknya. Namun rasa sakit itu tidaklah berlangsung lama karena Veranda tiba-tiba mengecup pipinya. Bryan dan sang driver melotot dan merasa iri, tapi ya memang itulah tipnya Ismu.Sampai akhirnya, setelah lebih dari 10 detik, Veranda melepaskan kecupannya. 

"Tip kamu sudah lunas ya, Ismu." ucapnya lembut. Tapi Ismu malah diam membeku seperti patung. Mungkin karena jantungnya skip beat karena tip impiannya ini telah dibayar lunas oleh Ve.

"Tip kami bagaimana, kak?" tanya Bryan dan sang driver.

Ve mendengus sebal. "Tip kalian belakangan saja," ujar Ve. "Melodynya kan juga belum siuman, dan kita masih di hutan, mana bisa membeli Alienware disini."

Tak lama kemudian, Melody bangun dari ketidaksadarannya. Ia berkali-kali menguap karena kekurangan oksigen dalam darah. Ve dan teman-temannya segera menghampiri Melody. "Kamu sudah sadar, Mel?" tanya Ve lalu memeluknya.

"Ya, tapi masih pusing dan entah kenapa aku mengantuk sekali." kata Melody. "Eh, kenapa aku bisa sampai disini?"

"Charlie telah sukses menghisap darahmu, itu dia kenapa kamu terus mengantuk." kata Ve menjelaskan. "Charlie hampir saja berhasil menumbalkan kamu di altar kematian ini. Tapi untungnya ada mereka," Ve memperkenalkan ketiga temannya. Bryan langsung merapikan bajunya dan berlaga sok keren. "Mereka bekerja sama mengalahkan Charlie. Sungguh memalukan bagiku yang seorang jounin, aku begitu emosi dan dengan mudah dikalahkan Charlie."

"Sudah, tidak apa-apa. Terimakasih sudah menyelamatkanku, Ve. Itu lebih dari cukup." ujar Melody seraya mengusap punggung Ve. Tak lupa, Melody kemudian berterimakasih kepada ketiga teman Ve. Melody memandang semua orang disana dan menitikkan air mata. "Maaf," katanya sambil mengusap air mata. "Hanya karena aku seorang kalian harus bertaruh nyawa. Sepertinya aku tak henti-hentinya merepotkan orang lain, terutama kamu Ve." ujar Melody sambil memeluk Veranda. "Bahkan kalian bertiga yang tidak perlu membahayakan diri pun harus terlibat untuk menyelamatkanku. Itu sungguh hebat, tapi juga sekaligus membuatku merasa bersalah."

"Demi oshi kami, itu tidak masalah," ujar Bryan, Ismu mengangguk menyetujuinya.

"Demi penumpang juga," timpal sang driver ojek.

"TERIMAKASIH!" seru Melody kepada semuanya. Tangis Melody pun pecah, air matanya mengalir deras. 

***

Melody dan Ve sudah agak pulih. Bryan dan kawan-kawannya juga sudah tidak kelelahan lagi. Mereka pun akhirnya pulang bersama, keluar dari hutan. Ismu merasa kegirangan karena Veranda memintanya untuk menuntunnya. Sementara Melody sibuk mengobrol dengan sang driver, Bryan sengaja berjalan disamping Ve. "Kak.." bisik Bryan sambil menyikut Ve. "Kakak nggak lupa kan?"

Ve mendengus sebal. "Ya ampun kamu ini—Baiklah," ujarnya sambil menggelengkan kepala. Ve meminta Ismu menuntunnya ke Melody, setelah itu ia berbisik-bisik kepada sahabatnya. 
Bryan mencuri-curi pandang, mengawasi ekspresi Melody. Oshinya tidak tampak keberatan atau jijik, dan lain sebagainya. Melody hanya tersenyum biasa, dan senyuman itu sedikit melegakan Bryan.

Melody menoleh. "Bryan, sini.." panggilnya dengan lembut. Ketika Bryan sudah sampai, Melody bertanya. "Kamu mau dicium sama aku?"

Pertanyaan itu membuat Bryan salah tingkah. "Eh, anu, kalau kakak keberatan, tidak usah saja." jawabnya sambil menggaruk kepala.

"Halah," Ismu balas mengejek Bryan. "Bilang saja mau, Bry."

Melody terkikik. "Aku tidak keberatan kok, aku mau mencium pahlawanku." ujar Melody. Bryan tidak pernah tahu bahwa ada kata seindah itu dalam bahasa Indonesia. Melody merangkul Bryan dan mencium pipinya, bahkan lebih dari sekali.

"Kak," Ismu bertanya kepada Ve. "Bryan sudah diberi tahu soal Melody belum?"

"Aduh," jawab Ve. "Aku lupa memberitahunya. Semoga saja dia tidak kaget."

Melody semakin gila, dia menarik bahu Bryan agar mereka berhadapan. "Mau aku cium di bibir?" Semua orang terkejut, dan Ismu merasa iri. Tapi tidak dengan Bryan, dia malah ketakutan, terutama ketika Melody berkata 'mau aku cium', karena Bryan melihat sepasang gigi taring mengkilat dibalik bibirnya.

Bryan mulai merasakan keringat dingin karena ketakutan. "Eh, kayaknya aku nggak usah dicium lagi kak," tolaknya.

"Ayolah," Melody memaksa. Ia memeluk Bryan erat-erat, hingga dagunya menempel ditengkuknya.

"TIDAAK!" Bryan mendorong kedua pundak Melody agar ia dilepaskan.

"Ayolah pahlawanku, kau pantas mendapatkannya." Melody, menggenggam erat pergelangan tangan kanan Bryan.

"JANGAN MENDEKAT!" seru Bryan. "Aku tidak mau dicium vampir!" lanjutnya, kemudian ia segera berlari sejauh mungkin menghindari oshinya. 

Semua orang tertawa, kecuali Melody yang keheranan. Melody menghampiri Ve. "Bryan kenapa sih?" tanyanya.

Ve masih terkikik bersama Ismu. "Kamu kan habis digigit Charlie," kata Ve menjelaskan. "Racun Charlie mengubahmu menjadi vampir, tapi penyebarannya belum sempurna. Jadi kamu masih manusia, tapi gigi taringmu menjadi lebih panjang. Jangan khawatir, hokage bisa menyembuhkannya."

"Yaah, pantas saja," keluh Melody. "Padahal aku tidak bermaksud menghisap darahnya." lanjutnya seraya tertawa.

Setelah itu mereka berpisah di pinggir hutan. Ve dan Melody bertolak ke rumah sakit. Sang driver ojek pulang dengan motornya yang sudah compang-camping, tapi setidaknya dia menggenggam uang tunai untuk membeli Alienware impiannya. Sementara itu Bryan dan Ismu pulang dengan menaiki angkutan umum.

TAMAT

Tapi ada bonus part. Mau baca?

Cerpen: Saving Melody (Part 3)


"Sekaranglah saatnya," ujar Ve. "Ayo maju dan kita serang mereka semua!"

Mereka bertiga mengangkat senjata dan berseru, "Hiyaaahh!". Tidak-tidak, itu bukan semangat berperang, itu justru adalah teriakan ketakutan yang mereka serukan selagi kabur. Mereka berlari meninggalkan Ve yang sedang diserbu para vampir.

"Aduh-aduh," Ve menepuk dahinya dan bergumam. "Susahnya mengandalkan penakut seperti mereka."

Namun usaha melarikan diri dari para vampir itu sia-sia belaka, karena sebenarnya mereka semua sedang dikepung dari segala arah. "Aaaaahhh!" mereka berbalik arah dan berlari mendekati Veranda. "Ah, bagus kalian kembali!" bentak Ve. "Ayo maju dan serang mereka semua!" Tapi rupanya mereka bertiga tidak mendengarnya, dan terus saja berlari sambil menyerang apapun yang ada dihadapannya sambil memejamkan mata karena ketakutan. Ve akhirnya lelah mengurusi mereka bertiga, "Ah masa bodoh, terserah kalian saja!" makinya. Ia kemudian ikut berlari menyerang kerumunan vampir bersama mereka bertiga.

***

Selama setengah jam mereka semua telah membantai ratusan vampir, tapi jumlah vampirnya sama sekali tidak berkurang, melainkan semakin bertambah dan serangannya semakin menggila. Ismu—walaupun awalnya takut—tetap bertarung meski tubuhnya luka-luka karena cakaran vampir, sedangkan si driver ojek masih semangat menggorok leher vampir sambil menentukan pilihan, Alienware tipe apa yang akan aku miliki nanti ya? fikirnya. Veranda—karena ia seorang jounin—masih tetap bertarung tanpa kenal lelah dengan berbagai jurus ninja. Sementara itu Bryan.. Eh, kemana dia?

Dengan nafas yang terengah-engah, Bryan bersembunyi dibalik batang pohon yang cukup besar. Sebenarnya ia tidak begitu takut bertarung, tapi ia sangat fobia terhadap darah. Karena itu dia begitu membenci anime gore, dan mengutuk penggemar disturbing picture. Karena ia sudah tidak tahan melihat darah, ia memutuskan untuk sembunyi saja. Itu lebih baik daripada nanti pingsan ditengah pertempuran, karena itu sama saja menghidangkan diri kepada para vampir.

Tapi naas, tak jauh dari persembunyiannya, seorang vampir sedang berjongkok memunggunginya. Vampir itu memejamkan mata sambil komat-kamit membaca mantera yang bahasanya sama sekali tak dapat dimengerti. Seandainya, vampir itu menyadari keadaannya, tamatlah riwayatnya.

"Aduh-aduh," gumam Bryan. "Kalau nggak dibunuh, dia bisa saja membunuhku setelah ini." Ia berjalan mendekati vampir itu, tapi ia berubah fikiran, "Aduh, aku benci darah. Aku tak bisa melakukannya." Ia berjalan mundur, tapi *Krak!* ia malah tak sengaja menginjak ranting. Vampir itu pun menoleh sambil menyeringai dengan penuh kemurkaan. Namun, sebelum vampir itu berbalik menyerangnya, rasa takut mendorongnya untuk segera membunuh vampir itu agar tidak menyerangnya. Berbekal ingatan adegan silent killing dari game Tenchu, ia menjenggut rambut sang vampir dan menusuk dadanya, lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong pisaunya kebawah untuk merobek perut sang vampir. Vampir itu berteriak, lalu berubah menjadi abu. Terbunuhnya vampir aneh ini disusul dengan kekalahan vampir lainnya. Jasad vampir yang telah mati berubah menjadi abu, sedangkan vampir yang masih hidup berubah menjadi kelelawar dan pergi sejauh mungkin meninggalkan hutan. 

Bryan pun keluar dari persembunyiannya, dan berlari sekencang-kencangnya ke arah Veranda. "Aaaahhh! Tolong!" teriaknya.

"Ini dia si kampret," bentak Ismu dan sang driver. "Kita berjuang mati-matian, kamu malah sembunyi, Bry. Dasar pengecut!"

"Kamu kenapa sih lari-lari begitu, Bry?" tanya Ve sambil mengernyitkan dahinya.

"Maaf, barusan aku membunuh vampir yang lagi sembunyi," ujar Bryan dengan nafas terengah-engah. "Tapi aku fobia darah! Aku bisa gilaa kalau melihat darah!"

Ve bersedekap sambil mengusap dagu. "Hmm.. Ternyata hanya vampir bayangan, seperti jurus bayangannya para ninja. Pantas saja jumlahnya tidak berkurang, dan mereka kembar." ujar Ve menjelaskan. "Kalau vampir yang asli dibunuh, maka vampir bayangannya akan musnah juga."

"Jadi yang Mas Bry bunuh itu vampir yang asli?" tanya si driver ojek.

"Ya—good job, Bryan!" jawab Ve sambil memuji Bryan. "Vampir yang asli pasti bersembunyi, dan membiarkan bayangannya yang bertarung."

Setelah mengalahkan vampir bayangan itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan Melody dari tangan Charlie. Tak peduli betapa lelahnya mereka, mereka tetap berlari menerjang hutan ditemani kabut dan cahaya bulan.. 

***

Lolongan anjing membelah kesunyian malam. Tujuh orang pelayan kegelapan menyambut kedatangan tuannya. Mereka tampak menakutkan dalam balutan jubah hitam. "Kami sudah menyiapkan altar kematian untuk ritual Anda, tuan Charlie," ujar salah seorang pelayan, menyambut Charlie yang datang dengan membawa Melody dalam gendongannya. 

Charlie tampak mengagumi keindahan altar yang disinari oleh cahaya bulan. "Sebentar lagi aku akan menikmatimu, darah suci," ujar Charlie dengan lembutnya sambil menatap Melody. Ia meletakkan Melody di depan altar, dan kemudian ia membuka jas dan kemejanya, tubuhnya yang kekar menambah ketampanannya yang nyaris sempurna. Setelah itu ia mulai membuka 2 kancing teratas dari kemeja Melody, dan melebarkan celahnya hingga memperlihatkan leher jenjang nan indah milik Melody. Charlie merapalkan mantera, dan segera menghisap darah dari leher itu.

Ve dan kawan-kawannya datang. "Sial," maki Veranda. "Kita sudah terlambat!"

Bryan seperti tersambar petir ketika melihat leher oshinya dikecup oleh Charlie. "Hei kau vampir bangsat!" seru Bryan, amarahnya meledak-ledak. "Beraninya kau mengecup leher oshiku seenaknya. Aku saja yang mau bersalaman di theater harus bayar!"

Catatan penulis: Bagi yang belum tahu, handshake (bersalaman) dengan oshi di theater itu harus bayar (dan tentunya tidak murah).

Charlie menoleh, wajahnya yang tampan kini menjadi menyeramkan dengan mata yang merah menyala yang menciutkan nyali siapapun yang melihat. Bryan yang ketakutan pun mundur dan bersembunyi dibalik punggung teman-temannya. Charlie murka, dengan suara yang telah berubah menjadi parau dia memerintahkan ketujuh pelayannya untuk menghabisi Ve dan kawan-kawannya. Para pelayan itu pun mulai menjalankan perintah tuannya.

Ketika teman-temannya bersiaga, Ve berkata, "Sudah, kalian duduk dan menyaksikan saja. Biar aku sendiri yang hadapi. Tugas kalian sudah selesai."

"Apa?" mereka bertiga keheranan. "Melody saja belum kita selamatkan. Masa tugas kami selesai secepat ini?"

"Menghadapi Charlie adalah tugasku dari hokage, biar aku yang menyelesaikannya. Lagipula aku tidak mau kalian terluka." ujar Ve. Ketika teman-temannya hendak memprotes, Ve memotongnya, "Tenang saja, aku tidak lupa dengan tip untuk kalian semua."

Para pelayan Charlie mulai mendekat. Ve berlari menghampiri mereka. Ia menarik dua bilah pisau dari sarungnya. Sambil berlari, Ve menusukkan pisau dengan telak ke perut dua pelayan terdepan. Kemudian ia melompat dan menunggangi pelayan yang berada ditengah lalu menggorok lehernya. Ketika pelayan lainnya mendekat, ia melakukan tendangan memutar tubuh sambil turun dari pelayan yang ditunggangginya, dan setelah pelayan itu jatuh, Ve menusukkan pisau ke dadanya dan merobek perutnya. Tersisa tiga pelayan terakhir. Ve menggunakan jurus bayangan untuk menciptakan dua kloning dirinya dan menyerang para pelayan terakhir dengan serangan cepat yang tak kasat mata. Ketujuh pelayan itu pun sukses dikalahkan dengan mudah oleh Ve. Bryan dan kawan-kawannya hanya bisa melongo penuh rasa kagum.

Tanpa membuang waktu, Ve menyerang Charlie yang sedang sibuk menghisap darah. Namun sayangnya Charlie menyadarinya, dan ia berbalik badan lalu melesatkan hantaman telak kepada Ve. Ve terjatuh dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Sial, kekuatannya berlipat ganda karena telah meminum darah suci! sesal Ve dalam hati.

Charlie mengangkat kedua tangannya, bulan purnama perlahan tapi pasti berubah menjadi merah. Sesuatu menggeliat dari dalam kulit punggung Charlie. Ketika kulit punggungnya sobek, keluarlah dua sayap kelelawar yang hitam nan lebar, bahkan lebih lebar dari depa tangannya sendiri. Kepalanya juga mengeluarkan tanduk, dan bokongnya mengeluarkan ekor. Kulitnya perlahan tapi pasti berubah menjadi sehitam arang dan juga mengeras. Kini Charlie yang tampan telah berubah menjadi iblis yang buruk rupa.

Ve segera mengeluarkan jurus seribu bayangan yang membuat dirinya terbagi menjadi seribu wujud kembar, kemudian ia mencoba menghabisi Charlie. Ribuan pukulan, tendangan, dan jutsu telah dikeluarkan, tapi tidak satupun dapat melukai Charlie. Ve sudah tidak sanggup menahan jurus bayangannya lebih lama lagi, ia kehabisan cakra. Akhirnya bayangan Ve musnah, dan Ve yang asli jatuh berlutut karena kelelahan.

Bryan dan kawan-kawan menghampiri, "Kakak tidak apa-apa?" tanya mereka.

Charlie bersedekap sambil menertawakan makhluk-makhluk lemah dihadapannya. "Veranda, oh Veranda. Setelah selama empat tahun aku gagal menculik Melody karena selalu kamu lindungi, kini aku berhasil, dan kau akan dicap sebagai jounin gagal konoha! Hahaha.." Charlie kemudian terus berceramah panjang lebar mengenai peran dirinya yang akan melangsungkan new world order, perannya dalam mengangkat bangsa vampir yang selama ini diam-diam selalu dibasmi pemerintah, dan lain sebagainya.

Ve tidak mempedulikan ucapan omong kosong Charlie. "Dengar, teman-teman," kata Ve, serius. "Kelemahan Charlie ada di jantungnya, kulitnya sudah berubah menjadi sekeras baja dan tak dapat ditembus dengan apapun. Kalau kalian mau lari, larilah selagi masih ada kesempatan!"

"Kami tidak akan lari!" bantah Ismu. "Lebih baik gugur sebagai pejuang daripada harus mati sebagai pengecut yang melarikan diri. Lagipula aku nggak tega melihat kakak, oshiku, terluka dan harus menghadapi iblis itu sendirian."

"Aku juga tidak mau kehilangan Kak Melody," ujar Bryan. "Tidak ada senyuman lain yang mampu bikin aku semangat, kecuali senyuman Kak Melody yang indah dan penuh ketulusan. Lagipula aku belum sempat dicium olehnya. Aku akan berjuang untuk itu!"

Ve terharu mendengar ucapan teman-temannya.

"A.. Ak.. Aku juga nggak ikhlas kehilangan kak Ve yang cantik ini," sela driver ojek. "Karena nanti mimpiku memeluk Alienware bisa pupus.. Huah.. Itu mimpi buruk!" 

"Bagus," seru Ismu sambil mengeplak kepala si driver ojek. "Kamu sukses merusak suasana penuh haru ini, mas!"

"Aduh-aduh," ujar Ve sambil menepuk dahi. "Terimakasih banyak teman-teman!" ucap Ve kemudian, seraya merangkul teman-temannya. 

Namun, tiba-tiba Charlie dengan secepat kilat melesat, lalu berhenti di hadapan Ve dan mencengkram leher Ve dengan tangan kanannya. "Ouw-ouw, sungguh menyedihkan ucapan manis kalian, tapi maaf, cukup sampai disini saja dramanya!" katanya, merusak suasana. Wajah Ve memerah karena cengkeramannya begitu kuat, tapi ia memaksakan diri untuk berpesan pada sahabatnya. "Kalian pergilah.." ucap Ve dengan lemah sehingga lebih terdengar sebagai bisikkan. Diam-diam Ve menjatuhkan beberapa kantung dari seragam ninjanya, sebelum akhirnya Charlie—dengan secepat kilat pula—melesat kembali ke depan altar kematian sambil menyeret Ve.

Amarah Ismu meledak-ledak. Ia hampir saja berlari ke altar untuk mengejar, tapi Bryan dan sang driver menahannya. "Kalian ini kenapa sih?" bentak Ismu seraya meronta-ronta agar dilepaskan. "Lihatlah, Kak Ve dalam bahaya."

"Kita harus segera mundur, mas!" ujar sang driver. "Penyelamatan ini sudah nggak realistis. Diri kita bertiga lebih perlu diselamatkan!"

"Bukan begitu. Kita mundur bukan untuk menyerah," ujar Bryan membantah. "Kita harus memikirkan strategi tanpa gangguan setan tampan itu. Ayo, mari kita mundur, bro." Ismu pun akhirnya menurut dan tidak lagi memberontak.

***

Dibalik batang pohon yang cukup besar, Bryan dan kawan-kawannya mulai merencanakan strategi sambil terus mengawasi keadaan Ve dari kejauhan. Baik Ismu maupun sang driver sama sekali belum memberikan strategi yang bagus, strategi mereka dirasa tidak begitu efektif. Ismu akhirnya menyerah dan tidur-tiduran di rumput, disusul dengan sang driver. "Rumus matematika lebih mudah bagiku, daripada merancang strategi." ujar Ismu, sang driver juga sepakat dengannya.

Sementara itu, Bryan terus berfikir. Ia berjalan mondar-mandir sambil memperhatikan kantung-kantung yang ditinggalkan Ve. Ia membuka kantungnya dan melihat isinya. Kantung kelabu berisi bom asap kelabu sebesar bola ping-pong. Sedangkan kantung yang hitam berisi bom sebesar bola golf, Bryan tidak tahu apa gunanya. Namun, di bagian belakangnya ada huruf kanji yang nampak seperti panduan pemakaian. Bryan pun meminta bantuan Ismu yang memang sudah lama mempelajari bahasa dan huruf Jepang.

"Baiklah, berikan aku waktu untuk menerjemahkannya." pinta Ismu. Sang driver mencoba membantu, tapi ia malah mengira huruf itu adalah huruf Cina.

Sementara menunggu, Bryan terus berfikir sambil mengawasi Ve. Saat ini tampak Ve sedang disiksa oleh Charlie—sambil tertawa kejam—hingga lemah tak berdaya. Seragam ninjanya sobek-sobek tidak karuan, darah berceceran hingga membuat Bryan bergidik, dan nafas Ve sudah tersengal-sengal seakan sudah mau mati. "Ayolah otakku, fikirkanlah sesuatu. Kak Ve sudah hampir mati!" gumam Bryan sambil memukul-mukul kepalannya.

"Bry, aku sudah selesai!" ujar Ismu. "Aku tidak mengerti seluruhnya, tapi aku menangkap beberapa kata. Benda ini adalah bom dengan daya ledak yang cukup untuk menghancurkan sebuah kuil. Untuk menggunakannya, tinggal tekan saja tombol ini lalu lempar. Bom ini akan meledak dalam 30 detik setelah diaktifkan."

"Terimakasih, Ismu." ucap Bryan.

"Bom dari Kak Ve ini mau diapakan, Bry?" tanya Ismu. "Kulit Charlie saja sekarang ini lebih keras dari baja. Bom takkan melukainya."

"Itulah yang sedang aku fikirkan. Kak Ve pasti tidak mungkin sengaja meninggalkan bom ini tanpa tujuan." Bryan pun kembali berfikir sambil berjalan mondar-mandir. Tawa bodoh Charlie mengganggu konsentrasinya. Namun, ketika memperhatikan tawa Charlie, sebuah ide menampar otaknya. "Aku dapat ide!!" serunya.

Ismu dan sang driver buru-buru mendekati Bryan. "Kalian sadar tidak ada sesuatu dari tawa Charlie?" tanya Bryan, kedua temannya menggeleng. "Baiklah, akan aku jelaskan. Bagian luar tubuh Charlie boleh saja keras, tapi aku yakin bagian dalamnya tetap lembek. Dengan kata lain, pencernaannya pasti tidak mungkin sekeras baja. Kalian paham kan?"

"Wow," ujar Ismu. "Kalau begitu, kita bisa memasukkan bom ini ke mulut Charlie!"

"Ketika bomnya meledak, jantungnya juga akan ikut meledak!" sambung sang driver. "Kamu benar-benar jenius Mas Bryan!" pujinya.

"Tapi bagaimana cara kita melakukannya?" tanya Ismu. "Bomnya cuma satu pula."

Bersambung

Cerpen: Saving Melody (Part 2)


"Cukup!" Ve mulai merasa muak dengan pertengkaran itu. "Aku meminta kalian membantu, bukan karena aku tak mampu mengejar Melody sendirian!" tegas Ve. "Aku hanya ingin kerahasiaan identitasku yang sebenarnya tetap terjaga!" Bryan dan Ismu bingung dengan identitas apa yang dimaksud, tapi mereka terlalu kesal untuk bertanya. "Asal kalian tahu, Charlie itu bukan penculik biasa," Ve menjelaskan dengan cemas. "Dia adalah vampir yang menculik Melody--yang berdarah suci--agar bisa dijadikan tumbal untuk ritualnya!"

"Pantas saja gigi taringnya panjang sekali!" seru Bryan, teringat apa yang dilihatnya saat Charlie menyeringai.

"Ya," jawab Ve. "Kalau Melody berhasil ditumbalkan, kekuatan Charlie akan berlipat ganda dan pastinya dia akan membahayakan Indonesia, terutama seluruh penduduk Jakarta. Dengan kekuatannya yang berlipat ganda, ia bisa menginfeksi warga Jakarta tanpa harus menggigit mereka, dan warga yang terinfeksi pun akan menjadi budaknya yang bisa ia peralat untuk menggulingkan pemerintahan. Kamu mau negeri ini jadi Republik Vampir Indonesia?"

Ismu memandang titik Melody di peta yang tadinya jarak mereka cukup dekat dengan mobil Jeep Charlie, kini jaraknya kembali menjauh. "Bagaimana kita akan mengejarnya?" tanya Ismu. "Taksi ini kan sudah mogok."

"Huft, terpaksa aku membongkar identitasku untuk mengejar mereka." ujar Veranda. Ia segera mengeluarkan pelindung kepala ninja dan memakainya. Bryan dan Ismu tercengang melihatnya tapi Ve tidak mempedulikannya. Setelah itu ia keluar dari mobil.

Ismu dan Bryan melotot tidak percaya. "S.. S.. Siapa kakak sebenarnya?" tanya Ismu. "Aku tahu kakak suka cosplay dan desain pakaian, tapi haruskah sekarang?"

Bumm! Bom asap diledakkan oleh Ve. Ketika asapnya telah memudar, tampaklah Veranda berbalut pakaian khas Ninja Konoha. "Aku jounin Konoha yang sedang ditugaskan oleh hokage untuk menjaga Melody, sang pemilik darah suci." jawab Ve. "Aku akan menghentikan mobil dengan kekuatan ninja-ku, dan kalian tolong segeralah menyusul bagaimanapun caranya--Aku memang seorang Jounin, tapi aku tak akan sanggup bertarung sendirian melawan pasukan Charlie."

"Siap!" seru Bryan dan Ismu, meskipun mereka sebenarnya sedang merasa bingung.

Veranda melompat ke atap mobil dan melompat ke atap mobil lain disekitarnya, layaknya sedang melompat-lompat diatas batu pijakan. Ia melompat begitu cepat, sehingga yang terlihat hanyalah bayangan hitam yang berkelebat. Ismu dan Bryan pun akhirnya percaya bahwa Ve adalah ninja.

"Bry, bagaimana cara kita mengikutinya? Dia kan ninja." tanya Ismu. " Kita bisa apa ditengah kerumunan mobil yang padat begini? Sekarang sudah malam pula."

***

Sudah hampir setengah jam dan mereka hanya bisa berlari sebisanya untuk mengejar Ve, tapi sia-sia saja karena mereka berdua bukanlah orang yang suka berolahraga, sehingga mereka kerap kali kehabisan nafas. Akhirnya Ismu pun menolak untuk berlari lebih jauh karena sudah terlalu kelelahan. "Percuma walau sekencang apapun kita berlari, kita tidak akan bisa mengejarnya." keluh Ismu. "Sekarang mungkin sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka, Bry."

Motor becat hijau berhenti tak jauh dari mereka. "Bagaimana kalau kita naik ojek online saja?" usul Bryan. "Tuh, ada satu yang sedang berhenti."

"Tapi kan hanya satu?" protes Ismu.

"Sekali-kali naik bertigaan tidak apa-apa kan?" paksa Bryan. "Setidaknya kan kita nggak harus berlari seperti ini. Gue lebaay, lemes braay.."

"Amit-amit," tolak Ismu dengan tegas. "Aku ogah menjadi cabe-cabean walaupun hanya sekali seumur hidup!" Ismu duduk dengan kesal di pinggir jalan dan berkata, "Aku sudah lelah, dan aku tidak mau ikut lagi dalam penyelamatan tak masuk akal ini, meskipun kamu memaksa!"

"Ingatlah siapa yang akan kita selamatkan. Penyelamatan ini juga bertujuan untuk menyelamatkan negeri kita!" bentak Bryan. Namun Ismu sama sekali tak tersentuh dengan ucapannya. Bryan pun mengancam, "Kalau keduanya berhasil aku selamatkan sendiri, jangan marah kalau Melody dan oshi-mu graduation dari JKT48 karena pacaran denganku, pahlawan penyelamat mereka!"

"Baiklah aku ikut," ujar Ismu yang sebenarnya masih lemes braay. "Enak saja kamu mau pacari keduanya!" serunya.

Driver ojek online itu pun mereka panggil. Ismu menyerahkan tablet milik Ve kepada sang driver agar ia bisa mengikuti titik hijau di peta yang sudah sangat jauh. Ismu naik lebih dulu, dan Bryan naik setelahnya. Kemudian, mereka pun berangkat. Bryan meminta agar laju motor dipercepat, dan sang driver memacu mesinnya hingga ke batas maksimal. Ia melaju dengan gesit diantara mobil yang terjebak kemacetan. Mereka pun semakin dekat dengan titik hijau di peta.

***

"Bajingan kamu, Charlie!" bentak Melody sambil meronta-ronta agar terlepas dari tali yang mengikatnya. "Bukan begini caranya untuk mendapatkan cinta dari seseorang!"

Charlie yang duduk di jok depan tersenyum sinis. Ia menoleh dan berkata, "Hah, cinta katamu? Tenang saja, aku tidak cinta dan sama sekali tidak butuh cinta darimu. Aku hanya membutuhkan darahmu yang suci nan lezat."

"Apa maksudmu! Apa kamu pembunuh!?" Melody keheranan. "Siapa sih yang menyuruh kamu? Pasti saingan bisnis papaku kan!?"

Charlie hanya menyeringai untuk memamerkan sepasang gigi taringnya. Melody menjerit ketakutan setengah mati, air mata langsung membanjiri wajah cantiknya. Para bodyguard segera membungkam mulut Melody dengan plester agar tidak menimbulkan keributan. "Uuh.. Sungguh aku tak sabar untuk menikmati darah dari lehermu yang jenjang dan putih berkilau. Pasti sungguh nikmat rasanya."

"Tidak mungkin. Vampir itu tidak nyata!" protes Melody yang masih tidak percaya. "Kamu pasti hanya ingin menakut-nakutiku kan!? Kamu pasti seorang psikopat kan!?"

Charlie berbalik badan. Ia memerintahkan bodyguardnya untuk mendekatkan wajah Melody yang mulutnya telah dibungkam dengan plester. Dengan tangan kirinya ia memegang dagu Melody, lalu dengan keras mencengkram pipi Melody hingga salah satu kukunya melukai wajah cantik Melody. Ketika darah segar telah mengalir, tanpa ragu Charlie menjilat dan mengecupnya hingga bersih. Melody hanya bisa menagis dengan mulut terbungkam.

Bruukk! Atap mobil Jeep Charlie seperti dijatuhi sesuatu. Seisi mobil merasa panik. "Tembak atapnya--dasar kalian bodyguard bodoh!" bentak Charlie. Dor! Dor! Dor! Mereka semua menembaki atap hingga berlubang-lubang. Melody menjerit karena tersiksa dengan rentetan suara pistol yang menyakiti telinganya. Ketika amunisi telah habis dan tembakan berhenti, kaca jendela depan mobil dipecahkan oleh Ve sambil menghantam sang supir dengan kedua sepatu ninjanya. Mobil pun oleng dan berbelok tajam masuk kedalam hutan, karena tak ada yang mengemudikan.

Veranda! batin Melody dengan gembira.

Ve melesatkan dua kunai yang masing-masingnya membunuh seorang bodyguard di kursi belakang. Kemudian ia menghentikan mobil dengan menarik rem tangan sekuat-kuatnya, dan saling baku hantam dengan Charlie setelahnya. Veranda berusaha melukai Charlie dengan segala senjata ninja yang ia miliki. Sedangkan Charlie hanya berusaha menggigit Ve sebisa mungkin agar dia juga menjadi vampir, tapi juga belum berhasil.

Melody dengan tangan yang terikat dibelakang mencoba mencabut kunai yang tertancap didada mayat bodyguard disampingnya. Ketika sudah didapatkan kunai itu, ia segera memotong tali yang mengikat tangannya, dan melepaskan tali yang membelenggunya. Setelah bebas, tanpa membuang kesempatan-dan dengan rasa takut yang luar biasa-ia menjenggut rambut Charlie dan menyembelihnya dengan kunai sambil memejamkan mata. Melody ketakutan melihat darah vampir berwarna hitam nan hangat mengotori tangannya.

Sesaat Melody dan Ve merasa lega karena mengira Charlie sudah mati, tapi ternyata luka sayat di leher Charlie sembuh dalam hitungan detik! Sebelum Charle tersadar sepenuhnya, Ve berinisiatif meledakkan bom asap, menggendong Melody, lalu melesat keluar dari mobil. Tapi tak disangka, Charlie juga bisa melesat keluar dari mobil. Ia mencengkram kaki Ve sehingga membuat Ve terbanting dengan keras ditanah. Charlie segera merenggut Melody dari Ve, lalu ia pergi menghindar sejauh-jauhnya.

***

Bryan dan Ismu masih dalam perjalanan. Ketika titik hijau di peta tiba-tiba melenceng keluar dari jalan utama, driver ojeknya melambatkan laju motor dan segera bertanya, "Mas, sepertinya orang yang mas kejar sekarang masuk ke dalam hutan. Apa mau dilanjutkan pengejarannya?"

"Lanjut saja, mas!" ujar Bryan bersemangat.

Sang driver ojek merasa keberatan dengan tugasnya, dia pun menjelaskan bahwa jalan di hutan itu sangat terjal dan akan membahayakan keselamatan mereka bertiga bila terus dilanjutkan. Namun Ismu dan Bryan tetap memaksanya untuk melanjutkan perjalanan, apapun resikonya. Sang driver ojek itu tetap merasa keberatan, dan akhirnya Ismu berkata, "Tenang saja, nanti kami beri uang tip yang banyak!"

Driver ojek itu berubah menjadi bersemangat setelah mendengar kata 'tip yang banyak'. "Alright, demi membeli laptop Alienware, aku akan melakukannya!" gumamnya dengan semangat membara. 

"Kami gundulmu!" bisik Bryan kepada Ismu untuk menolak kesepakatan yang tiba-tiba itu.

"Jangan curang!" seru Ismu seraya menyikut perut Bryan. "Naik ojek ala cabe-cabean ini kan ide jenius kamu!"

"Ah, baiklah." ujar Bryan dengan lesu. Yah sepertinya bakalan batal lagi deh rencana beli novel Assassin's Creed bulan ini, sesalnya dalam hati. Mana lagi diskon 70% pula, itu kan diskon yang langka sekali.

"Ayo jalan, mas." perintah Ismu.

Brum! Sang driver memacu motornya hingga berbelok keluar jalur dan memasuki hutan. Jalanan di hutan ini begitu kasar dan terjal, sehingga membuat motor terus bergoyang-goyang dan bergetar. Bahkan tak jarang ketika menghindari sebuah lubang, mereka malah terkena lubang lainnya yang tersembunyi dibalik rumput. Namun, ujian itu belumlah seberapa, mereka kini harus berhadapan dengan jajaran pohon pinus. Bryan dan Ismu sama-sama berteriak tidak karuan membayangkan mereka akan menabrak pepohonan itu. Tapi untungnya si driver ojek ini menyetir dengan cukup handal, sehingga ia bisa menyelip-nyelip ke celah diantara pepohonan dengan lihainya.

Ismu terkejut melihat Ve tergeletak ditanah. "Bang, berhenti!" perintahnya seraya menepuk-nepuk pundak si driver ojek. Ia segera turun dari motor dan mencoba memeriksa keadaan Ve, dan menggoncang-goncangkan tubuhnya. "Kak, bangunlah!"

Ve membuka mata sambil memegangi kepalanya yang pusing. Ia segera bangkit dengan terkejut, "Celaka! Melody harus segera kita kejar sebelum ritual penumbalan di hutan ini akan berlangsung!" serunya. Ve segera melompat-lompat hingga mencapai pucuk pohon tertinggi, dan bertengger disana. Ia memejamkan mata, dan mengeluarkan jutsu mata elang yang memungkinkannya untuk mencari musuh dengan jarak sejauh apapun, meskipun ia sedang berada didalam kegelapan. Setelah itu Ve segera turun dan memerintahkan kedua temannya berserta si driver ojek untuk mengikutinya.

"Lah, kok saya ikut juga?" protes driver ojek itu.

"Kamu bisa pergi dengan kemungkinan kematian yang besar sekarang, atau bergabung dan bertahan bersama kami dengan kemungkinan kematian yang jauh lebih kecil." 

Sang driver terkejut. "Ya ampun," serunya. "Aku menyesal bertaruh nyawa mengantarkan kalian berdua masuk ke hutan ini!"

"Jangan khawatir, nanti akan aku berikan tip." ujar Ve.

Lagi-lagi, ketika mendengar kata 'tip', sang driver ojek ini dengan cepat berubah fikirannya. "Baiklah, demi Alienware, aku akan membantu sekuat tenaga!" ujar si driver. "Aku akan membantu kalian menghadapi siapapun, sekalipun nyawa taruhannya!"

"Akan aku belikan Alienware itu, tapi kamu harus bantu kami. Oke?" kata Veranda.

"B.. Ba.. Baik!" jawab driver ojek, tak percaya impiannya dengan mudah akan diwujudkan.

"Hei tunggu Kak Ve, itu nggak adil bagi kami," protes Bryan. "Setidaknya kakak juga harus memberikan tip untuk aku dan Ismu."

"Baiklah, kalian berdua mau apa?"

Bryan dan Ismu langsung saling berbisik-bisik, mencurigakan. Pada akhirnya mereka menarik sebuah kesimpulan yang bagus. "Aku mau dicium Kak Melody," ujar Bryan bersemangat. "Ismu minta dicium sama kakak." Baik Bryan maupun Ismu harap-harap cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan Ve.

"Baiklah, kalau hanya di pipi, aku bisa mempertimbangkannya." jawab Ve yang terkejut, dengan agak berat hati. "Kalau Melody, ya.. mungkin dia tidak akan keberatan mencium orang yang menolongnya. Nanti aku akan bicara dengannya. Tapi aku tidak janji dia akan mau, Bry."

Bryan dan Ismu melompat-lompat kegirangan. Ve segera menghentikan kelebayan mereka, "Sudahlah jangan lebay. Musuh-musuh kita sudah sangat dekat. Bersiaplah!" perintah Ve. Kemudian ia mengambil 3 bilah pisau dan membagikannya kepada ketiga orang yang akan membantunya. Mereka bertiga nampak keheranan, mereka mengharapkan senjata yang lebih meyakinkan atau setidaknya lebih mematikan daripada itu.

"Sudahlah, hanya senjata itu yang aku punya!" seru Ve. "Tugas kalian sederhana, ikuti aku dan habisi apapun yang akan kalian temui nanti. Paham?"

"Paham boss!" jawab mereka bertiga, serentak.

Tak lama kemudian, suhu udara tiba-tiba menurun tajam, langit semakin menghitam, dan hanya cahaya bulan yang dapat menerangi kelamnya hutan itu. Para musuh mulai menampakkan diri. Mereka adalah para vampir kembar berwajah seputih kapur yang dengan bangga menyeringai untuk memamerkan sepasang gigi taringnya. Mereka tidak berjalan, tapi mereka melayang, sehingga jalan seterjal apapun tidak akan mengahalangi.

"Sekaranglah saatnya," ujar Ve. "Ayo maju dan kita serang mereka semua!"

Bersambung