Tampilkan postingan dengan label The Introvert Universe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Introvert Universe. Tampilkan semua postingan

The Introvert Universe (Bagian 3)


"Aaarggh!" kaki kanan Rama terbentur batu dengan kerasnya sehingga membuatnya tak bisa berlari menyelamatkan diri.

Rasa sakit dan takut kini bercampur menjadi satu saat makhluk besar itu menegakkan kepalanya. Rama hanya bisa memejamkan mata dan pasrah melihat makhluk besar itu akan menghabisinya!

"Grawwrr!" makhluk besar menggeram dengan kerasnya hingga mengeluarkan bau terbusuk yang pernah dicium oleh Rama. Namun, bukannya menghabisi Rama, makhluk itu malah bergerak mundur dan menjauh, seakan enggan berlama-lama memasuki hutan yang gelap dan menyeramkan ini.

"Fyuh.. Syukurlah." gumam Rama, sambil mengusap keringatnya.

Rama bangkit dan memandangi keadaan sekitar dari atas bebatuan. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon Oak yang sangat besar tumbuh dimana-mana. Ia pun menuruni bebatuan dan berjalan menyusuri hutan, berharap menemukan rumah penduduk sekitar. Tapi karena kakinya terasa sakit, ia harus mencari sesuatu untuk ia gunakan sebagai tongkat, agar ia bisa terus berjalan.

Tak lama kemudian ia menemukan sebuah tombak usang yang telah dirambati tanaman liar tertancap ditanah dan ia mencabutnya lalu menjadikannya tongkat. Dengan tongkat barunya, ia kembali menyusuri hutan yang dingin dan lembab ini tanpa harus berjalan terpincang-pincang.


Malam semakin larut. Lolongan serigala membelah kesunyian malam, diikuti lolongan serigala lainnya, membuat Rama menjadi panik. Rasa cemas memaksa kakinya yang cedera untuk mempercepat langkahnya.

Seekor serigala bermata biru menyala berjalan di antara semak belukar sambil terus mengendus-endus tanah di sekitarnya hingga jaraknya semakin dekat dengan Rama. Rama berjalan mengendap-endap bersembunyi dibalik lebatnya akar pohon Oak yang besar untuk menghindari serigala itu. Namun usaha Rama sia-sia. Jarak sang serigala semakin dekat saja hingga kini serigala itu berdiri tepat didepan Rama! Ia menggenggam erat tombak usangnya, menyiapkan diri atas segala kemungkinan serangan dari sang serigala.

"Grawwrr!!" sang serigala langsung melompat untuk menerkam Rama. Lalu, tepat disaat serigala itu melompat, dengan nekat Rama menghunuskan tombak usangnya tepat di perut sang serigala! Hingga mereduplah cahaya pada mata sang serigala dan mengalirlah darah biru dari perut serigala itu. Serigala itu telah mati!

Tapi, kenekatannya membunuh sang serigala ternyata membawanya kedalam masalah baru. Serigala-serigala lainnya muncul dari balik semak belukar. Jumlahnya sangat banyak! Mereka berjalan perlahan mendekat sambil terus menyoroti Rama dengan tatapan penuh kebencian, hingga akhirnya mereka mengepung Rama!

"Mati aku! Bagaimana aku bisa melewati mereka!?" fikir Rama, sambil bergidik ketakutan, menggengam erat tombak usangnya.

Para serigala merundukkan kepala, menjejakan kedua kaki belakangnya. Kemudian, mereka segera menghentakkan kakinya dan melompat sekencang-kencangnya kearah Rama. Dengan sigap Rama berputar sambil menghantam kepala mereka dengan tombak usangnya, hingga beberapa dari mereka terjatuh! Namun, hantaman Rama yang tak bertenaga itu tidak berpengaruh apa-apa bagi mereka. Mereka langsung bangkit dan menerkam Rama!

Kini Rama hanya bisa bergelut didalam terkaman para serigala. Bertubi-tubi cakaran dan gigitan telah mendarat kepada Rama! Pakaiannya tercabik-cabik, kulitnya penuh luka dan berlumuran darah, tapi ia masih terus berusaha bangkit. Sebisa mungkin ia membebaskan diri dari kepungan para serigala. Hingga akhirnya ia merasa sangat-sangat kesal karena kesulitan membebaskan diri, dan kekesalannya telah memancing cahaya biru dari dadanya muncul disaat yang tepat! Cahaya biru itu merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya!

Rama bangkit dan langsung menghantam satu per satu serigala dengan pukulan yang dahsyat! Keadaan langsung berbalik. Rama menyoroti para serigala dengan tatap mata penuh kebencian, sedangkan sebagian besar serigala telah berlari ketakutan. Kini hanya tersisa 14 ekor serigala bertubuh besar yang masih bertahan untuk menyerang Rama. Tanpa membuang waktu, Rama berlari meninggalkan mereka. Para serigala pun tak tinggal diam. Mereka segera berlari mengikuti Rama.

Cahaya biru telah membuat kecepatan lari Rama bertambah hingga 5 kali lipat kecepatan lari manusia biasa. Rama berfikir bahwa para serigala tak akan sanggup mengimbangi kecepatan larinya. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Dalam dunia antah berantah ini, serigala memiliki kecepatan lari yang sangat tinggi. Kini para serigala berlari tepat dibelakangnya. Berkali-kali mereka mendaratkan cakaran yang mengarah ke tubuh Rama, semakin melukai tubuhnya. Namun, serangan mereka tak menghentikan pelarian Rama, hingga akhirnya Rama dan para serigala masuk semakin dalam kedalam hutan.


Beberapa jam kemudian. Langit gelap yang kelam kini perlahan berganti menjadi birunya langit pagi. Udara semakin dingin hingga terasa menusuk tulang. Rama masih terus berlari dari kejaran para serigala beringas itu.

Rasa takut perlahan telah menggeser kekesalan dihati Rama. Cahaya biru yang menyelimutinya perlahan mulai memudar dan kecepatan larinya semakin berkurang. Namun, ia berusaha untuk tetap terus berlari karena jalan keluar dari hutan sudah sangatlah dekat. Rama bisa melihat ada beberapa manusia dan bahkan tak jauh dari sana, ada sebuah desa.

"Tolong..!!" seru Rama, berharap mereka mendengar dan akan menolongnya.

Sementara itu, beberapa orang yang Rama lihat adalah seorang Kakek yang sedang mengajari kedua cucu remajanya berlatih. Kakek itu mengenakan jubah putih serta membawa sebuah tongkat kayu. Sedangkan kedua cucunya—seorang lelaki dan seorang perempuan—mengenakan jubah dengan warna perpaduan antara hijau daun dan cokelat pohon.

"Kamu teruskan yang telah kakek ajarkan tadi, kamu harus..." sang kakek menghentikan pembicaraanya karena merasa mendengar sesuatu.

Dari kejauhan, Rama kembali berteriak, "TOLONG..!!!" dengan semakin kerasnya.

Sang kakek berjalan beberapa langkah, lalu berdiri menghadap hutan. Ia menghentakkan tongkatnya ketanah lalu memejamkan kedua matanya, mencoba menerawang hutan dengan sihirnya. Cahaya hijau muncul pada dahinya. Tak berapa lama kemudian, cahaya hijau telah padam dan ia kembali membuka mata. "Ah! Ternyata para serigala kembali berulah!" fikir sang Kakek, terkejut.

Kedua cucunya berjalan menghampiri sang Kakek, "Ada apa, Kek?" tanya kedua cucunya, khawatir.

"Kalian berdua, cepat panggil Laskar Penjaga Desa serta himbau semua warga untuk masuk kedalam rumah, kunci pintu dan tutup jendela. Sekarang!" perintah sang Kakek.

"Siap, Kek!" jawab mereka berdua, lalu segera mereka berlari menuju desa dan sang Kakek berjalan cepat menuju tepi hutan.

Sementara itu di dalam hutan. Cahaya biru yang menyelimuti Rama semakin menipis hingga akhirnya cahaya itu benar-benar padam. Akibatnya Rama kini bisa merasakan seluruh rasa sakit yang tidak terasa sebelumnya, karena efek sihir cahaya biru tadi telah meredam rasa sakit Rama untuk sementara waktu. Kini, karena luka pada tubuh Rama sangatlah banyak, ia tak lagi sanggup berlari dan akhirnya ia terjatuh tepat di kaki sang Kakek.

"Astaga! Bertahanlah nak!" seru sang Kakek yang terkejut melihat Rama yang terluka parah. Kemudian, sang kakek segera menempatkan Rama dibelakangnya. Perhatian para serigala bermata biru itu kini beralih kepada sang Kakek. Mereka menyoroti sang Kakek dengan penuh kebencian karena telah menghalangi mereka dari mangsanya.

3 ekor serigala yang paling kecil merundukkan kepala, menjejakkan kedua kaki belakangnya kuat-kuat lalu melompat untuk menyerang. Sang Kakek mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, lalu menghentakkannya ke tanah. Tongkat kayu itu langsung mengeluarkan kilatan cahaya hijau yang menyambar tepat mengenai 3 serigala kecil itu hingga menewaskan mereka!

"Graawwrr!!" serigala lainnya murka dan langsung melompat untuk menyerang sang kakek. Tepat disaat mereka melompat, hujan anak panah menjatuhkan mereka. Laskar Penjaga Desa berjubah kelabu telah memanah mereka! Namun, para serigala itu masih sanggup bangkit dan segera menyerang Laskar Penjaga Desa!

"Sial! Mereka bukan serigala biasa!" seru salah seorang penjaga desa. "Mereka adalah serigala terlatih. Kita harus sangat berhati-hati!"

Para penjaga desa memantrai busur panahnya dan mulai memanahi 11 serigala yang tersisa. Tapi, dengan lincahnya para serigala terlatih ini menghindari hujan panah sihir itu! Lalu para serigala mulai menerkam dan mencabik-cabik Laskar Penjaga Desa dengan membabi buta.

Sementara itu sang kakek sedang diserang oleh seekor serigala yang tubuhnya paling besar. Kakek itu mengisi tongkatnya dengan cahaya hijau hingga menghabiskan tenaga yang tersisa, lalu menghantam serigala itu dengan tongkat kayunya!

*DUUMMB!!*

Serigala itu terbanting dengan dahsyatnya. Namun, serigala itu bangkit lagi! Laskar Penjaga Desa pun telah ditumbangkan oleh para serigala. Kini sang Kakek harus bertarung seorang diri dengan tenaganya yang sudah terkuras. Para serigala berbaris beberapa meter didepan sang Kakek. Mereka menyeringai penuh kemenangan.

Sang kakek akhirnya memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi melindungi desa. Ia memasang kuda-kuda, menggulung lengan jubahnya, lalu memaksa dirinya mengeluarkan tenaga yang tersisa. Ia memejamkan matanya, lalu melakukan gerakan tangan yang terlihat seperti tarian, diikuti dengan cahaya hijau yang mengekor pada kedua tangannya. Angin berhembus lembut, rerumputan dan tumbuhan bergerak mengikuti gerak tangan sang Kakek.

Para serigala sudah tak sabar ingin menghabisi Kakek itu dan mereka pun berlari sekencang-kencangnya untuk menyerang sang Kakek. "GRAAWRR!!" geram mereka yang sudah haus darah!

Sang kakek menengadahkan kedua tangannya, lalu dengan keras ia menghentakkan kakinya dan *ZAP!* kemudian ia menusukan tangannya keudara. Tiba-tiba akar pepohonan muncul dari dalam tanah dan menghunuskan ujung teruncingnya pada dada para serigala hingga menewaskannya! Namun, dengan sigap serigala yang paling besar berhasil melompat menghindari akar runcing sang Kakek! Lalu dengan cepatnya serigala itu mendaratkan cakarannya pada dada sang kakek!

*SCRATCH!!*

"Woah!!" teriak sang Kakek, kesakitan. Sang kakek jatuh berlutut dan mengalirlah darah biru dari dadanya.

*JEDUAGH!!* Tiba-tiba, Rama yang diselimuti cahaya biru meninju serigala besar itu hingga terpental beberapa puluh meter dan menabrak pohon Oak dengan kerasnya!

Sang kakek benar-benar terkejut, "Astaga nak! Bagaimana kamu bisa bangkit?" seru sang Kakek kepada Rama. Namun Rama tak menjawabnya.

Serigala itu bangkit dengan lemah. Matanya berubah menjadi merah, tubuhnya diselimuti cahaya merah. Ia mengumpulkan kekuatan cahaya merah di kepalanya, dan kemudian berlari sekencang-kencangnya kearah Rama

"Cahaya merah itu!? Tidak mungkin!" gumam sang Kakek. "Nak, berhentilah. Serigala itu bisa membunuhmu!" seru sang Kakek memperingati Rama.

Rama mengabaikan peringatan sang Kakek. Segera ia mengumpulkan cahaya ditangan kanannya hingga membentuk bola cahaya biru yang lumayan besar, dan kemudian ia berlari sekencang-kencangnya kearah serigala. Hingga akhirnya cahaya biru dan merah saling bertabrakan!

*DUAMMM!!*

Terjadilah ledakan yang dahsyat! Rama terjungkir berkali-kali kebelakang dan sang Kakek menangkapnya. Sedangkan sang serigala sempat mencengkram tanah sehingga tidak terhempas. Tanpa membuang kesempatan, serigala itu kembali berlari. Namun, Rama sempat mengambil anak panah milik penjaga desa disebelahnya dan ia melesatkan panahnya dengan kekuatan cahaya biru!

*Wusshh!* Anak panah itu melesat dan cahaya biru mengekor dengan indahnya. *JLEBB!* Akhirnya anak panah itu berhasil menancap tepat pada jantung sang serigala. Padamlah cahaya merah pada tubuh sang serigala yang paling besar itu dan tewaslah dia!

"Luar biasa kekuatanmu, nak!" seru sang Kakek, tidak percaya. "Terimakasih, kau telah menyelamatkanku."

Rama yang masih diselimuti cahaya biru tak menjawab. Ia berbalik badan, menatap sang kakek dengan tajam. Ia mengumpulkan sedikit cahaya biru ditangan kanannya.

"Apa yang akan kau lakukan nak?" kata sang Kakek, merasa takut dirinya akan dibunuh oleh Rama.

Sang kakek melangkah mundur. Namun, belum sempat melangkah, Rama sudah memegang erat sang kakek dengan cengkraman sihirnya. Sang kakek yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah. Kemudian, Rama mengusapkan cahaya biru pada luka di dada sang Kakek dan sembuhlah luka itu.

"Lukaku sembuh!" ucap sang Kakek gembira. "Terimakasih, aku behutang nyawa padamu!"

Rama tak menjawab. Tiba-tiba, cahaya biru pada tubuhnya padam seketika, ia langsung terjatuh tak sadarkan diri tapi sang kakek terlebih dulu menangkapnya. "Dingin sekali tubuh anak ini." gumam sang Kakek. "Apa jangan-jangan!?"

Segera sang kakek memeriksa denyut nadi Rama. "ASTAGA! NADINYA TIDAK BERDENYUT!"

Bersambung..


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism

The Introvert Universe (Bagian 2)


"Arrrgggh!!" Pak RW berteriak kesakitan karena cengkraman sihir Rama pada lehernya yang semakin menguat.

"Sudahlah nak, Pak RW tidak bersalah! Tolong lepaskan!" bujuk Mama dan Papa Rama tanpa henti-hentinya. Mendengar suara orang tuanya, Rama mencoba untuk sadar diri sepenuhnya. Akhirnya cahaya biru mulai meredup dan cengkraman sihirnya mulai melemah.

"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini sebelum ada warga yang terluka!!" kata Pak RW memperingatkan mereka dan kemudian pergi semakin menjauh.

Rama tertunduk. Ia terus terbayang-bayang kata-kata Pak RW yang benar-benar menyakiti hatinya dan membuatnya semakin marah pada keanehan yang dianggapnya tidak berguna. Papa dan Mama Rama terus menenangkannya. "Sabar nak, Papa dan Mama yakin Tuhan punya jalan terbaik untuk kita." kata Mama Rama sambil mengusap kepala Rama.

Tanpa menjawab, Rama bergegas pergi ke kamarnya sambil menitikan air mata. Ia menenangkan diri di tempat tidurnya sambil membuka jejaring sosial dengan ponsel jadulnya. Ya, kurang lebih seperti itulah hal wajib yang akan selalu dilakukan para introvert seperti Rama. Biasanya, jika Rama sedang mengalami masalah yang sulit, selain berdoa pada Tuhan, ia juga bercerita pada teman-temannya sesama introvert di sebuah grup Facebook yang bernama KAP (Komunitas Anak Pendiam).
Catatan penulis: Karakter Rama memang fiktif. Namun, grup KAP (Komunitas Anak Pendiam) memang benar-benar ada di dunia nyata. Bagi yang merasa senasib dengan Rama bisa join juga loh. Monggo dilanjutkan membacanya..

Rama menceritakan seluruh kejadian gila yang dialaminya beberapa hari ini kepada seluruh anggota grup. Banyak sekali yang menanggapinya dan memberikan dorongan positif. Namun, ibarat titik hitam diatas kertas putih, perhatian Rama justru tertuju pada titik hitam tersebut daripada luasnya kertas putih. Titik hitam itu adalah sebuah bully dari seseorang yang mungkin bukan introvert, yang menganggap introvert itu lemah dan orang ini ingin mempermainkannya. "Sudahlah Rama, realistis saja hadapi kenyataanmu. Ini nyata bahwa kamu memang membahayakan orang lain. Lebih baik kamu tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi sebelum kamu membunuh mereka semua. Hahaha!" begitulah isi komentarnya.

Admin-admin KAP (Komunitas Anak Pendiam) memang cukup tanggap dalam mengatasi orang gila semacam ini. Tak sampai semenit orang ini sudah ditendang dari grup. Tapi, Rama terlanjur membaca komentarnya dan emosi Rama mulai terbakar. Ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu di depan cermin tua Rama memaki dirinya sendiri. "Kenapa kamu hidup? Kenapa kamu tidak mati saja? Aku lelah dipermalukan! Aku tidak ingin mereka yang kusayangi mati ditanganku!!" kata Rama yang terus memandang hina kepada dirinya didepan cermin. Ia semakin terlihat cengeng dan dianggapnya tidak berguna. Kekesalannya tak dapat dihindari lagi. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga cahaya biru itu muncul ditangannya dan terlihat menyala seperti api!

*PRANNGGGG!!!!*

Rama meninju cermin tua itu. Ia melampiaskan kekesalannya hingga cermin besar itu hancur dan kerangkanya tertanam di dinding! Namun energi yang dihempaskan Rama begitu besarnya hingga memantul dan menghantamnya kembali hingga terpental menabrak dinding dibelakangnya.

*BRUAGHH!!*

"Aagghh..!!" jerit Rama, merasakan kesakitan yang luar biasa dipunggungnya hingga ia merasakan darah mengalir dari hidung dan tangannya. Dengan susah payah Rama bangun. Ia terkejut melihat cermin yang ia yakini sudah hancur tapi ternyata cermin itu masih utuh! Rama memeriksa tangannya yang berdarah. Ia menemukan pecahan kaca menancap di jari-jarinya. Namun, kenyataannya cermin itu masih utuh hanya saja kini tertanam di dinding. Ia berjalan mendekati cermin dan menyentuhnya dengan jarinya. Tak disangka, jarinya malah menembus cermin dan saat ia menarik jarinya, terjadi gelombang lingkaran yang melebar seperti genangan air. Lalu, karena merasa sangat penasaran, dengan hati-hati ia memasukan kepalanya kedalam cermin. Wow, ia tak menyangka ada lorong yang terlihat cukup panjang dibalik cermin.

"Rama!!" teriak Papa Rama yang khawatir, mencoba masuk ke kamar namun entah kenapa pintu kamar terkunci dengan sendirinya.

Mendengar suara Papanya, ia merasa panik dan menarik kepalanya keluar dari cermin. Rasa penasaran terus mendorongnya untuk menyusuri lorong dibalik cermin. Dengan terburu-buru ia menyeka wajahnya, mengobati lukanya dan menyapkan segalanya. Ia mengeluarkan semua alat sekolah dari tasnya, kemudian mengisi tas itu dengan berbagai alat penting. Termasuk diantaranya beberapa makanan ringan, ponsel jadulnya—untuk keadaan darurat—dan banyak benda lainnya hingga menyesakan isi tasnya. Tanpa ragu lagi ia memasuki cermin untuk memulai perjalanann panjangnya.

Sementara itu, tepat disaat Rama telah masuk kedalam cermin, pintu kamar yang terkunci tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Lalu, karena melihat hancurnya kamar Rama, jelas membuat sang Papa sangat terkejut. Ia mencari anaknya disetiap sudut kamar bahkan sampai memeriksa diluar jendela kamar, namun tak ada tanda keberadaan anaknya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa tas Rama, beberapa potong pakaian dan berbagai benda hilang dari kamar Rama. Sang Papa benar-benar khawatir, ia mengira bahwa anaknya telah melarikan diri dari rumah.

Di dalam lorong, Rama mengedip tak percaya melihat peri biru yang tak lebih tinggi dari jengkalnya dihadapannya. Peri itu memiliki sayap dan berpijar seperti peri dalam buku cerita. Peri itu tak bisa bicara, ia hanya menunjuk ujung lorong dan memproyeksikan gambaran dunia dengan pemandangan indah yang sepertinya bukan pemandangan Bumi.

"Ah, aku mengerti maksudmu." gumam Rama. Ia berfikir bahwa peri ini akan menyelamatkannya dari kejamnya Bumi. Ia berfikir untuk mengajak kedua orang tuanya. Tanpa berfikir panjang, ia kembali menuju cermin besar yang melayang dibelakangnya. Namun, saat ia mencoba masuk, sia-sia saja karena cermin itu telah kembali menjadi cermin biasa. Lalu, peri biru menyentuh pundak Rama, kemudian menujuk ujung lorong lagi dan langsung terbang melesat ke ujung sana. Dengan perasaan menyesal, Rama berlari mengikuti sang peri. "Selamat tinggal orang tuaku tersayang." ucapnya dengan mata berkaca-kaca..


Setelah berlari cukup jauh, kini ia telah sampai diujung lorong. Ia melihat pintu dengan cahaya menyilaukan. Peri itu masuk kedalamya. Dengan takut-takut Rama mengikuti peri biru, masuk kedalamnya. Pintu yang ia masuki ternyata adalah sebuah portal yang entah menuju kemana! Sehingga ia terhisap, kemudian melesat dengan kecepatan ekstra tinggi sambil terus berputar-putar didalamnya. Lalu, karena portal ini telah membuatnya merasa mual, pusing, sakit—ia merasa seluruh bagian tubuhnya seperti terlepas satu sama lain—dan akhirnya ditengah perjalanan ia hilang kesadaran.

"Bangunlah Rama." seseorang menyadarkan Rama.

Rama membuka matanya, ia terkejut melihat dirinya terbangun diatas pulau awan. "Si.. Siapa kamu?" tanya Rama kepada bayangan biru tua setinggi dirinya yang berdiri memunggunginya.

"Aku ini adalah dirimu." jawab si bayangan biru dengan nada yang datar.

Rama bangkit, berjalan mendekati si bayangan biru. "Apa kamu yang telah menyulitkan hidupku dengan semua kegilaan cahaya biru bodoh ini!?" bentak Rama. "Aku benar-benar sudah muak dengan keanehan ini!!"

Bayangan biru itu menoleh. "Aku tidak menyulitkanmu. Aku hanya membantu." jawabnya dengan datar, sambil membuat sebuah bola cahaya biru ditangan kanannya. "Suatu saat kau akan mengerti dan menjilat ludahmu sendiri, Rama." imbuhnya cepat. Bayangan biru itu berbalik badan lalu menghantam Rama dengan bola cahaya biru.

*DAAASSHH!!*

"Aaggghhh!!" jerit Rama. Bersamaan dengan itu, pulau awan dan bayangan biru itu dengan cepat memudar dari pandangannya. Ia kembali ke dalam portal, melesat dengan kecepatan ekstra tinggi sambil berputar-putar dan kembali merasakan kegilaan dari rasa sakit lagi. Melanjutkan perjalanannya menuju antah brantah.

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

BAB II: Kehidupan yang Lain

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Setelah beberapa menit, jam, atau bahkan hari terombang-ambing didalam portal dengan kecepatan ekstra tinggi, beberapa detik lagi Rama akan berhasil keluar dari portal. Jalan keluar dari portal bisa muncul dimana saja, bahkan dibawah laut sekalipun. Sialnya, jalan keluar dari portal yang dilalui Rama muncul diatas langit. Rama pun jatuh dari langit yang sangat tinggi. Cahaya biru merambat hingga menyelimuti tubuhnya dan ia melesat dengan kencangnya sehingga terlihat seperti meteor biru yang menabrak awan-awan yang ada dibawahnya!

*DUUMMM..!!*

Rama mendarat di padang rumput yang terbentang luas dengan kerasnya sampai membuat cekungan ditanah. Beruntung cahaya biru muncul tepat waktu sehingga Rama tak merasakan sakit yang parah meskipun ia terjatuh menghantam tanah dengan begitu kerasnya. Tapi rasa mual dan pusing saat dalam perjalanan tadi sudah tak bisa ditahan lagi. Rama pun memuntahkan sarapan yang ia makan entah beberapa menit, jam, atau bahkan beberapa hari yang lalu dirumahnya. Akhirnya, Rama terbaring lemah diatas rerumputan, ia terlelap hingga malam tiba.


Hari sudah malam dan langit semakin gelap. Hanya sinar bulan yang menerangi padang rumput. Rama yang sedang terlelap kelelahan, terbangunkan oleh tanah yang bergetar. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan langsung memperhatikan sekitarnya dengan awas.

*Srekk.. Srekk.. Srekk..* Sesuatu bersembunyi dibalik rumput sehingga membuat rumputnya bergerak dan gerakannya selalu berpindah-pindah. Rama mengambil ponsel dari tasnya dan menggunakan lampu flash kamera di ponselnya untuk menerangi rumput yang bergerak.
Sesuatu yang bersembunyi dalam rerumputan itu sepertinya terganggu dengan lampu flash, sehingga gerakanya semakin lama semakin cepat. Jaraknya juga semakin mendekat. Kemudian, pada saat jaraknya sangat dekat—kurang lebih 10 meter—dengan Rama, makhluk itu berhenti bergerak sehingga suasana sunyi kembali.
Rama ingin memastikan bahwa makhluk itu sudah menghilang. Ia memungut sebuah batu kerikil dan langsung melemparnya ke tempat berhentinya makhluk misterius itu.

*TUK!*

"GRAAWWRR..!!" makhluk itu menggeram. Melompatlah sesosok makhluk besar yang mirip seperti ular—dengan panjang 20 meter, diameter 50 cm, berkulit kasar seperti batu, dan mata merah menyala yang mengerikan—dari rerumputan. Kemudian ia langsung mengejar Rama dan Rama berlari sekencang-kencangnya menuju hutan yang jaraknya terlihat cukup jauh. "Woaahh. Maaf aku tadi tidak bermaksud menyakitimu!" teriak Rama seakan makhluk itu akan mengerti ucapannya.

*SRASHH.. SRASHH.. SRASHH..!!* Makhluk itu terus mengejar Rama dan sesekali ia melibaskan ekornya hingga memotong rerumputan yang dilangkahi Rama. Rama terus melompat setinggi-tingginya untuk menghindari ekor makhluk itu. Namun usaha Rama percuma saja, makhluk itu terlalu besar untuk dihindari olehnya. "AAARRGGGHH..!!!" Rama pun akhirnya terlibas ekor makhluk itu, lalu terlempar hingga masuk ke hutan dan jatuh menabrak tumpukan bebatuan besar yang licin dan berlumut.

Bersambung..


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism

The Introvert Universe (Bagian 1)



·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

BAB I: Si Penyendiri yang Malang

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Suatu malam saat hujan deras dan petir yang terus menyambar. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit di Bogor, "Paahh, perutku sakit!" keluh seorang Ibu hamil tentang kandungannya yang sakit pada suaminya.

"Sabar Mam, sebentar lagi kita sampai.." jawab suaminya, mengusap keringat istrinya sambil terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

Hujan semakin deras, membuat perjalanan semakin mencekam. Jalanan semakin terasa licin dan banyak lubang yang tak lagi dapat terlihat karena tergenang air hujan. "Pah, aku sudah tak sanggup lagi menahannya.." kata sang istri dengan lemasnya.

"Kuatkanlah, Mam. Perjalanannya tinggal sedikit lagi. Ditahan sebentar ya." jawab sang suami, menguatkan istrinya.

Setelah melalui perjalanan panjang yang menegangkan, sampailah mereka di Rumah Sakit. Bersama darah yang terus menetes, langsung dibawalah sang istri ke ruang bersalin. Hingga beberapa jam kemudian, tak terdengar sama sekali tangisan bayi. Namun, beberapa saat kemudian, Bu Dokter keluar dari ruang bersalin dan mengabarkan, "Selamat Pak, anak Anda lahir dengan selamat dan istri Anda juga selamat." kata sang Dokter, tersenyum.

"Alhamdulillah ya Allah!" ucap sang Suami.

"Tapi," senyum diwajah Bu Dokter memudar.

"Tapi apa, Bu?" tanya sang Suami, terkejut melihat kesedihan pada wajah Bu Dokter.

"Maaf Pak, anak Anda terlahir tanpa menangis dan ini sangat-sangatlah tidak wajar. Sepertinya anak Anda bisu, Pak.." jawab Bu Dokter dengan berat hati, lalu pergi meninggalkan sang Bapak.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dari ruang bersalin sambil menggendong bayi laki-laki. "Ini anak Bapak, silahkan.." kata sang perawat, menyerahkan bayi itu kepada Bapaknya.

Sejenak sang Bapak terdiam. Meskipun anaknya bisu, ia terharu melihat putra pertamanya telah lahir dengan selamat. Wajah bayi itu benar-benar terlihat sangat polos dan tak berdosa.

"Seperti apapun kamu. Kamu telah membuat Papa bahagia." ucap sang Bapak yang terlihat bahagia. "Papa namai kamu Rama Kusumaatmaja, nak. Sesuai dengan artinya, Rama adalah pemberi kebahagiaan.. Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang memberikan kami kebahagiaan.."

Sekilas terlihat kilatan cahaya biru dari mata sang bayi, tapi sang Bapak tidak memperhatikannnya. Lalu, sambil menangis terharu, sang Bapak pun melantunkan adzan di kedua telinga anak bayinya. Kemudian, ia mengembalikan sang bayi kepada perawat untuk kembali dirawat.


Beberapa tahun kemudian...

Rama tumbuh menjadi balita biasa yang ceria dan tidak bisu namun sangat pendiam. Rama tak pernah terlihat suka bermain dengan teman-temannya. Dia lebih suka menyendiri. Hingga semua orang menganggap Rama mengindap autisme. Namun, tak ada yang pernah menyadari bahwa Rama memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ia sering membuat benda-benda yang dimainkannya berterbangan. Ia juga pernah kecelakaan, namun keistimewaannya telah menyelamatkannya.

Ceritanya begini. Suatu hari, sang Mama mengajak Rama pulang kampung menyusul Papanya yang bekerja di Surabaya. Dalam perjalanan dengan bis malam, supir bis mengantuk dan kelalaian supir bis telah membuat bis masuk ke dalam jurang. Saat bis terguling-guling jatuh kedalam jurang, cahaya biru merambat keluar dari tubuh Rama hingga menyelimuti sang Mama. Cahaya itu melindungi Rama dan sang Mama dari kecelakaan. Padahal, tak satupun orang dalam bis yang selamat. Hanya dia dan sang Mama yang selamat. Sejak itulah, sang Mama menyadari dan percaya bahwa Rama memiliki keistimewaan yang tidak biasa.


Tahun demi tahun telah berlalu. Rama kini sudah tumbuh besar menjadi seorang remaja introvert yang kurus, culun dan sangat pendiam. Rama dikucilkan di lingkungannya karena keistimewaannya yang biasa mereka sebut sebagai keanehan. Rama sering dianggap penyihir atau dukun karena dia sangat pendiam dan selalu saja ada hal-hal magis yang terjadi disekelilingnya. Padahal, sebenarnya Rama hanyalah seorang remaja introvert yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan. Yeah, setiap orang yang memiliki kepribadian introvert pasti memiliki kelebihan yang luar biasa.

Pada suatu pagi di Sabtu yang cerah. Rama yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA Negeri 107 Bogor, berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada jalan lain yang bisa membuatnya lebih cepat sampai ke sekolahnya. Namun, Rama selalu memilih jalan yang lebih jauh karena jika ia melewati jalan yang jauh itu, ia akan melewati rumah cewek pujaan hatinya. Yeah, Rama adalah penggemar rahasia cewek ekstrovert yang memiliki nama Citra Kirana ini. Sayangnya, dia terlalu pendiam untuk mengungkapkan besarnya perasaan yang ia pendam sejak SMP.

Siang harinya. Bel sekolah berbunyi, saatnya pulang! Saat pulang sekolah di hari Sabtu adalah saatnya kegiatan ekstrakurikuler. Saat kegiatan ekrakurikuler itulah Rama bisa puas memandangi Citra dari kejauhan. Karena Citra sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikulernya, yaitu silat. Nah, biasanya setelah selesai latihan Rama sengaja berdiri diujung koridor sekolah, tujuannya sih untuk berkata 'Hai..' tapi yang selalu terjadi adalah, "Heh, apa lihat-lihat?" sela Citra, mendahului Rama yang ingin menyapanya.

Rama hanya menunduk, terdiam tak menjawab, bahkan tak berani sedikitpun kontak mata dengan Citra berserta teman-teman eskul silat Citra.

"Kayaknya lo selalu nungguin gue disini setiap gue latihan? Lo nantang gue?" tanya Citra dengan juteknya.

"I.. Iya." jawab Rama dengan bodohnya. Dasar pendiam, iya disini maksudnya 'iya, aku nunggu kamu' bukan 'iya, aku nantang kamu'.

*HAHAHA..!!*

Citra dan semua temannya mentertawakan Rama si kurus dan culun yang dianggap menantangnya bertarung silat. "It's oke deh. Gue mau bertarung, asalkan lo bisa mengalahkan Bono, sobat gue.." tantang balik Citra kepada Rama. Dengan tersenyum sinis, ia menyodorkan Bono si gemuk jago silat yang semakin membuat orang larut dalam tawa dan Rama semakin tenggelam dalam kecemasannya.

"B.. Bukan itu." jawab Rama dengan cemas melihat besarnya tubuh Bono dan membayangkan kehebatan silatnya. Tapi percuma saja beralasan apapun, semua orang sedang ramai mentertawakan Rama, hingga suara pelan Rama tak terdengar lagi.

Lalu, saat Bono maju, Rama langsung berlari dengan kencangnya sejauh mungkin dari sekolah. Namun, fisik Rama tidak sekuat itu untuk berlari dan akhirnya dia terpojok di taman komplek. "Hehehe.. Mau kemana lagi lo? Ayo, hadapi gue!" kata Bono, menakuti Rama.

Akhirnya, mau tidak mau Rama harus siap mempertanggung jawabkan kebodohannya sendiri. Rama melempar tas sekolahnya ke semak-semak dan langsung memasang posisi kuda-kuda yang salah. Selanjutnya, pertarungan akan segera dimulai dan Citra menjadi wasitnya. Rama dan Bono saling menjura hormat. Kemudian dimulailah pertarungan sangat tidak seimbang ini, antara semut dan gajah purba.

*Prok.. Prok.. Prok..* Teman-teman eskul silat Citra bertepuk tangan. mereka terlihat antusias menyaksikan pertarungan ini.

Tanpa bersuara, Rama langsung mencoba melepaskan tinju kepada Bono berkali-kali dan semuanya dimentahkan dengan mudahnya oleh Bono begitu saja.

"Ciaatt!!" Bono langsung membalas Rama. Ia melayangkan tinju kewajah Rama hingga Rama jatuh tersungkur. Inilah saat paling menakutkan karena Rama sudah tak berdaya lagi. Bono berlari dan lompat untuk menindih Rama dengan tubuhnya yang gemuk.

"Aahhh..!!" Rama hanya bisa pasrah dan sambil tersungkur menutup matanya. Namun, tiba-tiba ada cahaya biru muncul dari dari dadanya yang merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Lalu, Rama bangun dan bangkit lagi! Kali ini kemurkaan tergambar jelas diwajahnya! Tubuhnya diselimuti cahaya biru dan matanya mengeluarkan cahaya biru terang menakutkan!

Rama mencengkram leher Bono, menghentikan larinya dan mendorongnya sampai terjungkir berkali-kali hingga tersungkur di kaki Citra. Rama mengangkat kedua tangannya tinggi di udara, mengumpulkan cahaya biru lalu dengan sekuat tenaga menghantamkan tangannya ke tanah!

*DUUUMMMM...!!!!!*

Tanah disekeliling Rama menghentak dan membuat Citra serta teman-teman eskul silatnya terjatuh! Mereka pun ketakutan dan langsung berlari sambil mengejek Rama! "Dasar anak aneh! Penyihir lo!" teriak Citra sambil berlari dan mengusap air mata.

Setelah mendengar ejekan Citra tersebut, Rama mulai tersadar. Matanya tak lagi bersinar dan emosinya tak lagi meledak-ledak. Ia kebingungan melihat taman yang berantakan dan Citra serta teman-teman eskul silatnya berlari ketakutan. Kemudian ia menyadari, ia menduga bahwa ini semua disebabkan oleh keanehannya sendiri. Namun, keanehannya hari ini benar-benar semakin menguat dan menggila.

Setelah tenaganya pulih, ia langsung mengambil tasnya dari semak-semak taman dan pulang kerumah dengan perasaan galau.


Sampai dirumah. "Assalamuallaikum.." ucap Rama, lemas.

"Astagfirullah! Kenapa wajahmu nak?" tanya Mama Rama, memegangi wajah Rama yang babak belur dengan rasa khawatir.

"Tak apa Mam. Ini semua karena keanehanku lagi. Aku sedang tak ingin membicarakannya." jawab Rama dengan lesu, meninggalkan ruang tamu, lalu naik tangga dengan cepatnya dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.

Mama Rama hanya bisa terdiam mencemaskan keanehan anaknya itu yang semakin hari semakin menjadi-jadi.

Di dalam kamarnya, Rama berjalan mondar-mandir sambil terus memikirkan keanehan dalam dirinya yang semakin menguat dan menggila. Beberapa menit kemudian, Rama duduk didepan cermin tua yang sudah puluhan tahun tergantung dikamarnya. Lalu, Ia memandangi wajahnya yang babak belur dihajar Bono sepulang sekolah tadi. Sambil terus memperhatikan lukanya, ia mencelupkan jarinya kedalam sisa bekal air minumnya untuk mengompres lukanya. Tiba-tiba cahaya biru itu muncul diujung jarinya dan dengan cepatnya menyembuhkan luka-luka di wajah Rama. "Subhanallah!" ucap Rama terkejut dengan cahaya biru yang tiba-tiba muncul dari jarinya.


Keesokan paginya. Hari Minggu yang cerah, hari yang menyenangkan bagi Rama karena Papanya libur kerja dan bisa bersantai bersama keluarga. Rama dan kedua orang tuanya sedang sarapan pagi di ruang makan.

*Tok! Tok! Tok!*Ada tamu yang mengetuk pintu "Assalamuallaikum.."

"Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" tanya Rama dalam hati sambil melihat arlojinya yang masih menunjukan pukul enam pagi. Seperti biasa, jika ada tamu Rama pasti langsung masuk ke kamarnya.

Kemudian Papa Rama membukakan pintu rumah dan ia terkejut dengan kedatangan Pak RW. "Waallaikumsalam. Silahkan masuk Pak." kata Papa Rama mempersilahkan tamunya. Setelah semua duduk..

"Ada perlu apa ya Pak? Kok pagi-pagi begini datang ke rumah saya." tanya Papa Rama, bingung.

"Maaf mengganggu Pak. Ada hal penting yang harus kami sampaikan." jawab Pak RW. "Sebenarnya kami ingin menyampaikan keluhan warga komplek yang merasa resah karena kehadiran anak Bapak dan menginginkan ia pergi meninggalkan komplek ini." lanjut Pak RW dengan beratnya.

"Apa!? Apa salah anak saya!?" tanya Papa Rama lemas, tidak percaya.

"Maaf, kemarin warga melihat Rama mengamuk di taman dan keistimewaan anak Bapak ini membuat warga resah dan takut dilukai, Pak." jawab Pak RW dengan berat hati.

Papa dan Mama Rama terlihat begitu bersedih mendengarnya. Rama yang mendengar percakapan dari kamarnya pun merasa sangat terpukul dan frustasi!

"Saya mengenal Rama dan keistimewaannya sejak ia kecil. Namun kali ini keistimewaannya telah berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan. Saya tidak dapat menolongnya lagi, Pak.." lanjut Pak RW yang terlihat menyesal.

Mendengar pernyataan Pak RW tersebut, Rama semakin merasa terpukul dan semakin frustasi. Pernyataan itu membuat Rama merasa sangat-sangat marah pada dirinya sendiri! Lalu, tiba-tiba cahaya biru itu muncul dari dadanya dan merambat hingga menyelimuti seluruh tubuhnya! Matanya kembali bersinar biru terang menakutkan! Lagi-lagi Rama tidak dapat mengendalikan keistimewaannya!

*BRUAAGGHHKKK!!* Rama menghajar pintu sampai terpental, mengejutkan semua orang dibawah. Kemudian, dengan cepatnya Rama turun ke lantai bawah. Lalu, dari kejauhan ia mencengkram leher Pak RW dengan sihir cahaya biru di kedua tangannya.

Bersambung..

Klik disini untuk lanjut membaca cerita The Introvert Universe (Bagian 2).


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism

The Introvert Universe: Prolog



·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Prolog

·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Dalam dunia manusia, Introvert adalah salah satu jenis kepribadian dari sekian banyak jenis kepribadian manusia yang ada. Namun, banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya introvert adalah sebuah negeri besar yang terletak di sebuah planet antah brantah yang belum terjamah manusia bernama Psikologi. Negeri Introvert adalah sebuah negara besar yang berbatasan langsung dengan negeri Ekstrovert. Negeri Introvert adalah tempat dimana semua makhluk berkepribadian introvert berkumpul dan mendirikan pemerintahan dengan ideologi dan kemampuan spesial mereka sendiri.

Dahulu kala Negeri Introvert hanyalah sebuah negeri dengan tanah yang luas, tapi hanya dihuni oleh sedikit makhluk saja. Namun, semua berubah setelah sang misterus legenda pendiri Negeri Introvert memiliki keinginan untuk menyelamatkan seluruh makhluk Introvert yang dikucilkan dari berbagai galaksi di alam semesta ini dengan mengumpulkan mereka di Planet Psikologi. Maka, dibentuklah pasukan Introvert Elite untuk menyebar ribuan portal khusus menuju negeri Introvert untuk planet disekitar planet Psikologi. Sejak saat itulah makhluk introvert dari berbagai galaksi terselamatkan dari hidupnya yang kelam. Mereka berbondong-bondong masuk ke Negeri Introvert dan negeri tersebut menjadi negeri besar yang kemajuannya melebihi negeri lain.

Pembaca: Penulis, bagaimana jika seandainya portal tersebut digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab?

Penulis: Portal tersebut hanya diciptakan khusus oleh Introvert Elite untuk makhluk berkepribadian introvert. Jika ada selain makhluk introvert—termasuk introvert tidak murni—mencoba masuk, bisa dipastikan dirinya akan mengalami amnesia atau bahkan kematian.

Pembaca: Penulis, apakah ada makhluk introvert dari Bumi yang tinggal di negeri Introvert?

Penulis: Penulis tidak mengetahuinya secara pasti. Namun, sejauh yang aku tau tentang planet Psikologi. Planet tersebut, memiliki jarak yang sangat-sangatlah jauh dari Bumi. Lagipula, portal menuju negeri Introvert hanya disebarkan disekitar planet Psikologi saja. Jika portal tersebut sampai ke Bumi dan ada makhluk yang coba memasukinya, kemungkinan ia akan sampai dalam keadaan hancur. Karena, jarak yang ditempuh sangatlah jauh dan kecepatan perpindahannya ekstra tinggi.

Pembaca: Wah! Penulis, aku mau ke negeri Introvert dan berbahagia dengan ideologi Introvertnya. Bagaimana caranya selain dengan melalui portal khusus yang disebar oleh Introvert Elite?

Penulis: Pertanyaan yang jenius sekali. Teruslah bermimpi nak, karena ini hanya sebuah cerita fiksi bersambung karyaku yang akan aku post secara eksklusif hanya di KAP (Komunitas Anak Pendiam). :)

Klik disini untuk lanjut membaca cerita The Introvert Universe (Bagian 1).


·°★·°∴°·☆.·°∴°.☆·°∴°·★°·

Penulis: Bryan Suryanto

Kritik & Saran: Monggo di komentar
Fanpage: Bryan Suryanto's Blog
Follow me: @BryanRynism